Sastra Bandingan “Kisah Nabi Adam”

Cerita Ke-1: Sejarah 25 Nabi dan Rasul “Kisah Nabi Adam”

karya: Drs. Muhajir

Adam a.s adalah manusia pertama, sekaligus Nabi yang pertama di bumi. Beliau dijadikan oleh Allah SWT dari tanah yang dibentuk serupa manusia, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga hiduplah beliau. Sebelum Nabi Adam a.s dijadikan, terlebih dahulu Allah SWT menjadikan makhluk bangsa jin dari api yang sangat panas.

Setelah itu Allah SWT memerintahkan kepada malaikat dan iblis agar bersujud untuk menghormati Adam a.s, akan tetapi iblis yang sombong dan congkak enggan bersujud kepada Adam karena merasa dirinya lebih mulia dari Adam a.s karena ia dijadikan dari api sedangkan Adam a.s dari tanah. Karena iblis tidak mau sujud kepada Adam a.s maka Allah SWT mengutuk dan mengusirnya dari surga.

Siti Hawa Diciptakan, dan Iblis memperdayakannya

        Karena Nabi Adam a.s merasa kesepian hidup sendirian maka Allah SWT menciptakan seorang wanita sebagai pasangannya yaitu Siti Hawa. Sejak terkutuk dan terusir dari surga, iblis kemudian menggoda Nabi Adam a.s dan Siti Hawa. Akhirnya mereka berdua terpedaya oleh bujukan iblis untuk mendekati pohon larangan dan memakan buahnya, Maka dengan seketika mereka dikeluarkan dari surga dan bumi ini menjadi tempat kediaman mereka, beranak cucu sampai kepada kita semua sekarang ini.

Kemudian mereka menyesal dan merasa bersalah sehingga menangislah mereka berdua memohon ampunan Allah SWT, dan Allah SWT menerima tobatnya tetapi mereka dipindahkan ke bumi secara terpisah dan dengan jarak yang jauh. Setelah mereka saling mencari hingga waktu yang lama akhirnya bertemulah keduanya di Padang Arafah (Padang tempat kenal mengenal).

 

Nabi Adam Dijadikan Khalifah di Muka Bumi dan Diajari Bermacam-macam Ilmu

        Segala yang terjadi dengan rencana Allah SWT, demikian pula tentang dikeluarkannya Nabi Adam a.s dan istrinya dari surga untuk dijadikan khalifah di muka bumi. Seseorang yang menjadi khalifah (wakil Allah) tentulah harus mempunyai ilmu cukup. Maka kepada Adam a.s Allah SWT memberikan beberapa pelajaran dan petunjuk sehingga beliau menjadi pandai. Namun bagaimanapun pandainya bila dibandingkan dengan ilmu Allah, ilmu manusia ibarat setetes air ditengah samudera yang amat luas.

 Iblis Diberi Tangguh sampai Hari Kiamat

        Setelah jatuh keputusan Allah SWT untuk mengusirnya, Iblis  kemudian memohon kepada-Nya agar memberi kesempatan (dengan memanjangkan usianya dan menggoda / menyesatkan  umat manusia) untuk membalas sakit hatinya kepada Nabi Adam yang telah menyebabkan ia diusir dari surga. Dan Allah SWT memperkenankan permohonan iblis tersebut.

Perkawinan di Zaman Nabi Adam

        Sebagai suami-istri Adam dan Hawa setiap kali melahirkan anak kembar dari satu kandungan  sampai sepuluh kali. Pada kehamilan yang kesebelas, yakni anak yang terakhir Siti Hawa melahirkan satu anak laki-laki yang diberi nama Syits, yang kemudian menjadi nabi. Dengan demikian, anak-anak mereka berjumlah dua puluh satu, terdiri dari sepuluh perempuan dan sebelas laki-laki.

Suatu kali ketika anak-anak itu menjadi dewasa terjadi perselisihan di antara Habil dan Qabil. Qabil lahir bersama saudara kembarnya Iqlima, sedangkan Habil lahir bersama saudara kembarnya Labuda. Menurut hukum perkawinan yang ditetapkan Allah waktu itu, Qabil harus mengawini Labuda dan Habil mengawini Iqlima. Tetapi Qabil menolak karena Iqlima lebih cantik parasnya daripada Labuda. Akibat pertengkaran itu mereka akhirnya mengadukan kepada bapaknya. Meskipun pada akhirnya Nabi Adam a.s memutuskan bahwa peraturan yang sudah ditetapkan mesti dijalankan. Akan tetapi Qabil bersikeras mengawini Iqlima saudara kembarnya. Maka peristiwa tersebut diserahkan kepada Allah SWT dengan jalan mengadakan kurban. Barang siapa yang kurbannya diterima oleh Allah SWT  maka dialah yang berhak mengawini Iqlima.

Lalu Allah menerima kurban Habil, dengan begitu Qabil marah dan membunuh Habil. Setelah Habil terbunuh maka Qabil pun merasa bingung mencari cara untuk menyelenggarakan mayat saudaranya itu. Maka Allah SWT memperlihatkan kepadanya dua ekor burung gagak berkelahi dan seekor diantaranya mati terbunuh, maka yang masih hidup itu menggali tanah dan menguburkan bangkai kawannya itu kedalamnya dan kemudian ditimbunnya. Dengan demikian Qabil dapat menguburkan mayat saudaranya itu dan Qabil menjadi orang pertama yang membunuh sesamanya sedangkan Habil menjadi orang pertama yang terbunuh oleh sesamanya di muka bumi ini.

Nabi Adam a.s wafat dalam usia seribu tahun dan setahun kemudian istrinya Hawa wafat.

***

 

Cerita Ke-2: Dalam Perjamuan Cinta “Dan Dunia pun Ada !”

Karya: Dr. Taufiq El Hakim

Setan sebelum melakukan maksiat dan memberontak kepada Tuhannya konon bernama ‘Azazil. Dia merupakan salah satu pembesar malaikat yang bersayap empat dan juga pemimpin para malaikat langit serta bertugas sebagai penjaga surga-surga. Ia berkuasa atas bumi, malaikat tercerdas dan berilmu paling banyak.

Suatu saat Allah mengutus Jibril agar mengambil segenggam tanah dari bumi untuk dijadikan bahan penciptaan Adam. Ketika Jibril mengulurkan tangannya ke bumi, bumi bergetar ketakutan dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu agar engkau tidak mengurangi diriku sedikitpun.”

Jibril pun kembali menghadap Allah dengan tangan hampa dan tidak jadi mengambil tanah tersebut. Kemudian Allah mrngutus Mikail dan ternyata ia mengalami hal serupa dengan apa yang dialami Jibril. Maka untuk yang terakhir kalinya, diutuslah Izrael sang malaikat maut. Bumi pun bergetar seraya berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu agara engkau tidak mengambil dariku sedikitpun.”

“Aku juga berlindung kepada Allah dari kembali dengan tangan hampa, tanpa berhasil melaksanakan perintah Tuhanku.” Sahut Izrael menimpali perkataan bumi. Setelah itu Izrael mengulurkan tangannya dan mengambil tanah bermacam warna dan dari berbagai tempat dipenjuru bumi. Dari Tanah yang beragam inilah Allah menciptakan jasad Adam.

Setelah sosok Adam selesai dicipta Allah meniupkan dari ruh-Nya kedalam jasad Adam yang masih kosong itu dan meyempurnakan ciptaan-Nya itu Adam telah menjadi ciptaan yang terbaik dan paling menakjubkan daripada para malaikat dan Setan.

Maka Allah memerintahkan kepada semua malaikat dan Setan bersujud kepada Adam tetapi Setan menolaknya.

Dengan angkuhnya Setan berjalan mondar-mandir di surga. Ia menolak untuk bersujud kepada Adam, makhluk yang terbuat dari tanah. Tiba-tiba, seekor ular yang telah mendengar kabar tentang peristiwa tersebut menemuinya. Dengan desisnya si ular licik menghentikan Setan, “Wahai Azazil, ada apa denganmu? Mengapa engkau tidak mau bersujud kepada Adam seperti malaikat yang lain?”

“Aku harus bersujud kepada benda itu?”

“Jangan biarkan kedengkian menghancurkan dirimu! Engkau harus sadar bahwa bersujud kepada Adam itu perbuatan mulia!”

“Apanya yang mulia? Dia? Tanah yang dibentuk?”

“Dalam hal apapun tanah itu lebih unggul daripada api yang menjadi bahan penciptaanmu.’

“Apa katamu hai ular busuk?”

“Sungguh dalam tanah terkandung ketenangan, kearifan, kemurahan dan pertumbuhan.”

“Tidak tahukah kau apa yang terkandung dalam api selain kecerobohan, kesembronooan, ketergesaan, dan membakar.”

“Hai ular buruk rupa, kau munafik! Apa karena Allah yang telah menciptakannya?”

“Allah telah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, Dia telah meniupkan kedalam jasadnya dari ruh-Nya, Dan Dia telah mengajarkan nama-nama segala sesuatu. Ini kemuliaan yang tiada tandingannya.”

“Dia mengajarinya nama-nama segala sesuatu?”

“Benar, Ia diberi akal sebagai perangkat mengetahui dan memahami. Diberi nafs yang dengannya ia menyadari dan mengerti, Diberi hati yang dengannya ia merasa dan mencinta, Ia tidak sama dengan malaikat.”

“Engkau telah melihatnya? Itulah dia wahai Azazil. Sekarang waktunya engkau mengeri hal itu?”

“Dan sekarang pula saatnya aku mengerti bahwa aku juga bisa mencipta sesuatu yang padanya kutiupkan dari ruhku!” ucap Setan.

***

Setiap tempat telah dijelajahi Setan untuk mencari tanah, hingga sampailah dia menemukan tanah yang dicarinya. Dengan riangnya ia mengambil tanah itu lalu membentuknya menjadi makhluk mirip Adam.  Setelah bentuknya sempurna Setan bingung karena ciptaannya itu tidak seperti yang diharapkannya bersuara dan bergerak.

“Sekarang baru kau tahu mencipta itu tidak gampang” kata si ular licik

“Diam kau!”

“Adam bukanlah tanah tetapi kehisupan yang tersimpan dalam tanah. Dia adalah ruh Allah dan ini adal rahasia Allah yang tak bisa disingkap siapapun, bahkan dirimu!”

“Diam dasar ular cerewet!” Lalu si ular licik ditinggal sendirian./ Setan mencari akal dan berjalan ke sana ke mari di surga dan melihat Adam sedang berbaring dan terlelap dalam tidurnya. Sejenak Setan mengamati Adam dan terlintas pikiran jahatnya “Sungguh, dia tidak mampu mencipta makhluk hidup dari sesuatu yang mati semisal tanah. Tetapi dia dapat mencipta makhluk hidup dari sesuatu yang hidup. Jika dari tubuh Adam yang hidup dia bisa mengambil secuil saja tentu dia bisa mencipta sisanya untuk pelengkap.”

Yang dicuri mesti bagian tubuh yang tersembunyi dan tak terlalu berarti. Setan memeriksa bagian dalam tubuh Adam. Dia mendapati tulang-tulang rusuknya yang tak terlihat dan berjumlah cukup banyak. Jika dicuri salah satunya tentu tak akan kelihatan jelas dicuri. Dengan lihai dan hati Setan mengambil tulang rusuk kiri yang hidup itu dari tubuh Adam, lalu membentuknya seperti bentuk Adam tetapi sedikit berbeda. Kemudian Setan melekatkan sesuatu pada sosok ini, sesuatu yang bersumber darinya. Setelah itu, makhluk baru tersebut berdiri dan melangkah.

Tiba-tiba terdengar pekik nyaring dari balik pepohonan, “Hore! Hore!”  Dengan muka masam si ular licik berkata sambil melihat kearah makhluk yang baru itu. “Hawa yang sungguh cantik”

Setan bertanya kepada si ular licik “Hawa?” mengapa engkau memanggilnya seperti itu?”

Dengan bijak si ular licik itu beralasan, karena ia dibuat dari makhluk hidup.

Lalu tiba-tiba Adam terbangun dari lelap tidurnya dan mendapati Hawa telah berada disampingnya. Dia sangat ketakutan untuk mendekati Hawa dan bersenang-senang denganya atau merapatkan tubuhnya ke tubuh Hawa.

Setan bertanya dan mencari cara kepada si ular licik “Kenapa Adam tidak mau menyentuh Hawa?”.

Si ular licik berpikir sejenak. Tiba-tiba tatapannya tertuju kepada sepasang burung merpati yang sedang kawin. “Bagaimana jika Adam dan Hawa dikawinkan lalu hadir makhluk ketiga yang bersumber darimu”

Tetapi bagaimana caranya?

“Di surga ini terdapat pohon yang buahnya jika dimakan akan menjadi mabuk.”

Dan didalam diri Hawa ada kekuatan rayuan dan tipuan muslihatmu. Dia akan mampu merayu dan memperdaya Adam agar ia mau memakan buah tersebut”

“Mata Setan berbinar-binar dan bertepuk tangan kegirangan”

Setelah itu terjadilah peristiwa yang sangat menghebohkan: Adam menjadi lemah dan mengikutin Hawa. Ia bersama Hawa makan buah pohon terlarang itu.  Sari buah tersebut membuat Adam mabuk, hingga ia menyetubuhi Hawa. Adam dan Hawa pun di usir dari surga, dilempar ke bumi. Kemudian Hawa mengandung janin pertama.

Keturunan Adam semakin banyak dan bertambah. Qabil lahir, kemudian membunuh Habil. Dan ini adalah dosa pertama dan keburukan pun mulai dikenal di bumi. Dalam setiap diri anak cucu Adam terkandung semua unsur kebaikan, keburukan, keindahan, kejelekan, kehinaan, keluhuran, ketakberartian. keagungan, keadilan, kezaliman, akal, kecerobohan, kelemaham dan kepongahan.

Dan dunia pun ada………! Wakaanatiddunyaa…!

                                    ***

 

Persamaan dan Perbedaan dari segi strukturnya:

Persamaannya:

  • Tema: Keduanya memiliki tema yang sama yaitu tentang Penciptaan Manusia Pertama “Nabi Adam”
  • Tokoh: Tokoh-tokoh yang digambarkan memiliki kesamaan nama dan wataknya masing-masing dalam cerita keduanya.
  • Bahasa: Teks Faktual (Tulisan yang ditulis berdasarkan kejadian sebenarnya yang terinspirasi dari kitab suci umat Islam “Al-Qur’an”) dan dikemas dengan dengan bahasa sehari-hari sehingga mudah untuk dipahami oleh pembaca.

Contoh: “Adam a.s adalah manusia pertama, sekaligus Nabi yang pertama di bumi. Beliau dijadikan oleh Allah SWT dari tanah yang dibentuk serupa manusia, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga hiduplah beliau.”

Kutipan kisah tersebut juga diterangkan di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hijr:26 yg berbunyi:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُو

Artinya:Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. 15:26)

 Bentuk; Keduanya memiliki bentuk yang baik dari susunan, penegasan dan gambaran cerita memiliki kesatuan yang indah juga tepat.

  • Kesimpulan dan Amanat:
  • Umat manusia seluruhnya berasal dari Nabi Adam a.s, bukan dari makhluk lainnya.
  • Doa Nabi Adam a.s karena bujukan Iblis telah diampuni Allah SWT dengan doanya.
  • Iblis / setan yang terkutuk itu selalu menggoda manusia agar mereka tergelincir dari kebenaran dan mengikuti kemungkaran (kejahatan) dan dosa. Maka Iblis itu adalah musuh manusia yang nyata.
  • Manusia tidak pernah mengetahui apa-apa yang gaib kecuali yang telah diberitahukan Allah SWT.
  • Ilmu manusia amat terbatas, sedangkan ilmu Allah meliputi segala-galanya.
  • Iblis memohon dipanjangkan usianya demi menggoda dan membujuk manusia menuju kesesatan. Tetapi tidaklah akan tertipu oleh iblis kecuali orang-orang kafir.

 

Perbedaannya:

  • Genre: Cerita Nabi Adam karya Dr. Muhajir berbentuk sejarah mutlak yang bersumber dari Al-Qur’an sedangkan karya Dr. Taufiq El Hakim diberi tambahan / imajinasi dalam citraan cerita tersebut yang dibuat hanya untuk sekedar gurauan, tetapi tidak untuk dianggap sebagai keyakinan.
  • Tokoh: Adanya penambahan tokoh si ular licik pada cerita kedua karya Dr. Taufiq El Hakim.
  • Isi cerita:
  • Pada cerita Nabi Adam karya Dr. Muhajir sosok Nabi Adam dibuat oleh Allah tetapi pada cerita kedua karya Dr. Taufiq El Hakim sosok Adam dibuat oleh Setan.
  • Pada cerita Nabi Adam karya Dr. Muhajir lebih padat dan mendetail dalam setiap kejadian / keadaan  yang terjadi dengan jelas.

Kutipan: “Suatu kali ketika anak-anak itu menjadi dewasa terjadi perselisihan di antara Habil dan Qabil. Qabil lahir bersama saudara kembarnya Iqlima, sedangkan Habil lahir bersama saudara kembarnya Labuda. Menurut hukum perkawinan yang ditetapkan Allah waktu itu, Qabil harus mengawini Labuda dan Habil mengawini Iqlima.”

 

Latar Belakang kesastraan dari dua karya tersebut

  • Agama: Kedua pengarang tersebut terinspirasi dari kitab suci agamanya, yaiitu agama Islam. Karena dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menggambarkan / menceritakan sejarah Nabi Adam yang sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari bagi semua umat Islam.

 

Daftar Pustaka:

 

Muhajir . 1988. Sejarah 25 Nabi dan Rasul. Jakarta: S.A. Alaydrus
El Hakim, Taufiq. 2001. Ariniilaah “Wakaanatid-Dunyaa!. Mesir: Al-Haiah Al-Mishiriyah Al-Ammah Lilkitab, Maktabah Al-Usrah.[1]
[1]  Disadur dan diseleksi oleh Anif Sirsaeba menjadi Dalam Perjamuan Cinta “Dan Dunia pun Ada!” dan diterbitkan oleh Republika dan Basmala-Republika-Corner (BRC), Februari 2008.

Sinopsis Novel Salah Asuhan

Corrie de Bussee, gadis Indo-Belanda yang cantik, lincah dan menjadi dambaan setiap pria yang mengenalnya. Corrie berteman dengan Hanafi dari sejak kecil. Hanafi sendiri adalah laki-laki muda asli Minangkabau, berpendidikan tinggi dan berpandangan kebarat-baratan. Bahkan cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Karena selalu bersama-sama akhirnya mereka satu sama lain saling mencintai. Tapi cinta mereka itu tidak dapat disatukan karena perbedaan bangsa, jika orang Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda maka tidak diperbolehkan, yang akhirnya apabila kejadian sampai menikah mereka akan dijauhi oleh para keluarganya dan orang lain. Corrie pun akhirnya pergi yang tadinya tinggal di Minangkabau menjadi di Betawi. Perpindahan itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari Hanafi dan meneruskan sekolahnya di sana.

Akhirnya ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah. Rapiah adalah sepupu Hanafi, gadis Minangkabau sederhana yang berperangai halus, taat pada tradisi dan adat sukunya. Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah yaitu untuk membalas budi pada ayah Rapiah yaitu Sutan Batuah yang telah membantu membiayai sekolah Hanafi. Tapi Hanafi awalnya tidak mau karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi akhirnya dengan bujukan ibunya walaupun terpaksa ia menikah juga dengan Rapiah. Karena Rapiah tidak Hanafi cintai keberadaan Rapiah pun di rumah hanya diperlakukan seperti babu, mungkin Hanafi juga menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada apabila banyak temannya orang Belanda yang datang ke rumahnya. Hanafi dan Rapiah dikarunia seorang anak laki-laki yaitu Syafei.

Suatu hari Hanafi digigit anjing gila, maka dia harus berobat ke Betawi agar sembuh. Di Betawi Hanafi dipertemukan kembali dengan Corrie. Di Betawi, Hanafi menikah dengan Corrie dan mengirim surat pada ibunya bahwa dia menceraikan Rapiah. Ibu Hanafi dan Rapiah pun sangat sedih tetapi walaupun Hanafi seperti itu Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal dengan Ibu Hanafi. Perkawinannya dengan Corrie ternyata tidak bahagia, sampai-sampai Corrie dituduh suka melayani laki-laki lain oleh Hanafi. Akhirnya Corrie pun sakit hati dan pergi dari rumah menuju Semarang. Corrie sakit Kholera dan meninggal dunia. Hanafi sangat menyesal telah menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas kematian Corrie, Hanafi pun pulang kembali ke kampung halamannya dan menemui ibunya, Hanafi pekerjaannya hanya termenung saja dan tidak terlalu bergairah. Hanafi sakit, kata dokter dia minum sublimat dan akhirnya dia meninggal dunia.

Sinopsis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Zainuddin berhasil kembali ke kampung halamannya setelah diberi izin oleh Mak Base, orang tua angkatnya. Selama ini dia tinggal di negeri orang, yaitu di Makasar. Hal ini disebabkan ayahnya dulu telah diusir dari Batipuh, karena telah membunuh Datuk Mantari Labih. Datuk Mantari Labih ini dibunuh oleh pendekar Sutan, ayah kandung Zainuddin itu, karena Datuk Mantari Labih berusaha merebut harta warisan milik ayah Zainuddin. Akibat pembunuhan itu, Pendekar Sutan dibuang atau diusir dari tanah leluhurnya dan lari ke Mengkasar. Di Mengkasar, Pendekar Sutan kawin dengan Daeng Habibah. Dari hasil perkawinan dengan Habibah itu, lahirlah Zainuddin. Setelah ayahnya meninggal, Zainuddin diangkat anak oleh Mak Base yang baik hati itu.

Ketidakadilan yang menimpa ayahnya dulu itu akibat adat istiadat yang melekat di daerahnya itu, sekarang betul-betul dirasakannya sendiri. Karena Zainuddin bukan orang Padang asli, karena dia mempunyai ibu yang bukan asli Minangkabau atau Batipuh itu, hubungan cintanya dengan Hayati seakan sebagai penghalang besi yang sulit ditembus. Semakin besar lagi halangan cinta kasihnya dengan Hayati, yaitu dia termasuk pemuda yatim piatu yang miskin. Tapi walaupun begitu hubungan cinta kasih mereka masih tetap saja berlangsung. Zainuddin yang waktu itu tinggal di Padang Panjang selalu berkirim-kirim surat pada Hayati yang ada di Batipuh.

Suatu hari Hayati pergi ke Padang Panjang untuk melihat pasar malam. Tentu saja sebelum berangkat kesana, kepergiannya itu telah diberi tahu lewat surat kepada Zainuddin. Jadi pada dasarnya kepergiannya itu hanyalah ingin bertemu dengan Zainuddin. Dan keduanya memang sama-sama rindu hendak bertemu kasih.

Di Padang Panjang Hayati tinggal di rumah sahabatnya, yaitu Khadijah. Dan mereka telah berjanji akan bertemu di rumah sahabatnya itu dengan Zainuddin. Tapi tanpa diduga, ternyata pertemuan cinta kasih mereka harus terhalangi oleh orang ketiga, sebab ternyata kakaknya Khadijah rupanya menaruh hati juga pada Hayati. Puncak persaingan antara kedua pemuda itu terhadap Hayati yaitu ketika keduanya sama-sama mengirim surat untuk Hayati kepada orang tua Hayati. Zainuddin waktu itu, walaupun sebenarnya bukan seorang pemuda miskin lagi karena dia baru saja menerima warisan dari Mak Base yang baru meninggal dunia dan tidak berusaha menjelaskan kepada keluarga Hayati bahwa dia sudah kaya, harus menerima perasaan pahit, yaitu lamarannya ditolak oleh orang tua Hayati. Sedangkan yang sebagai pemenang adalah Aziz, karena Aziz seperti diketahui oleh orang tua Hayati selama ini adalah seorang pemuda kaya.

Zainuddin akibat kenyataannya ditolaknya lamarannya itu kemudian jatuh sakit. Sedangkan Hayati menjadi sedih dan was-was hidup dengan seorang pemuda Aziz yang tidak dicintainya sedikitpun itu. Aziz juga merupakan seorang pemuda yang berperangai jelek, sehingga membuat tidak berbahagia keluarga itu.

Atas saran Muluk, sahabatnya, Zainuddin kemudian pindah ke Jakarta. Di Jakarta Zainuddin menjadi seorang penulis. Tulisannya makin lama makin banyak, sehingga dari mulai dikenal oleh banyak orang. Selanjutnya dengan ditemani oleh sahabat karibnya itu, Zainuddin pindah ke Surabaya. Di Surabaya diapun menjadi seorang penulis yang produktif. Namanya terkenal di masyarakta Surabaya. Dia juga dikenal menjadi seorang penulis yang kaya dan sangat dermawan.

Karena tugas pekerjaannya, oleh pemerintah Aziz ditempatkan di Surabaya, sehingga keluarga ini harus tinggal di Surabaya. Akibat berikutnya, mereka bertemu lagi dengan Zainuddin yang sangat Hayati cintai itu.

Akibat kecerobohan dan kelalaian Aziz dalam menjalankan pekerjaannya Aziz dipecat dari pekerjaannya. Selama menganggur itu Hayati dan suaminya Aziz itu tinggal di rumah Zainuddin yang sangat dermawan itu. Lama-kelamaan, Aziz merasa malu juga tinggal di rumah Zainuddin dengan keadaan yang menganggur dan tak punya uang. Sedangkan Zainuddin sendiri sungguh sangat baik dalam menerima mereka. perlakuan Zainuddin yang demikian baik itu sungguh telah membuat Aziz menjadi sangat rikuh dan malu. Karena tidak tahan menanggung rasa yang makin lama makin besar itu, akhirnya Aziz pergi meninggalkan Hayati entah kemana. Baru beberapa lama kemudian, Aziz mengirim dua pucuk surat, yang satu untuk Hayati istrinya dan yang satu lagi untuk Zainuddin. Surat untuk Hayati berisikan bahwa dia telah menceraikan Hayati. Sedangkan isi surat untuk Zainuddin, yaitu Aziz menyerahkan Hayati kepada Zainuddin agar Zainuddin mau menerima Hayati sebagai istrinya. Rupanya itu pesan terakhir dari Aziz, yang tak lama kemudian meninggal dunia.

Sebenarnya hati Zainuddin memang masih sangat mencintai Hayati dan masih berharap agar Hayati bisa jadi istrinya. Namun karena kekerasan hatinya yang diliputi oleh rasa dendam karena dulunya lamarannya ditolak oleh orang tua Hayati, penyerahan Hayati itu dia tolak. Malah dia suruh Hayati pulang kampung. Betapa hancur hati Hayati menerima kenyataan itu. Kemudian dia pulang dengan menumpang kapal Van Der Wijck esoknya. Ketika kapal telah berangkat membawa Hayati pulang, tiba-tiba kesadaran Zainuddin muncul lagi, bahwa dia sebenarnya sangat mendambakan Hayati. Dengan tergesa-gesa dia berangkat menyusul Hayati ke pelabuhan, namun kapal Van Der Wijck sudah berangkat. Hati Zainuddin sangat sedih dan menyesali perbuatannya. Dia semakin sedih dan hancur, ketika besoknya dia membaca Koran terkabarkan bahwa kapal Van Der Wijck telah tenggelam. Secepat kilat Zainuddin berangkat ke Tuban bersama sahabat karibnya, Muluk untuk menemui kekasih hatinya yang sedang berbaring di rumah sakit Tuban. Itulah pertemuan terakhir mereka, Hayati meninggal di rumah sakit itu, di dalam pelukan Zainuddin.

Akibat kejadian yang sangat disesalkan dan disedihkan itu, Zainuddin terus sakit-sakitan. Dan akhirnya meninggal dunia. Oleh Muluk jasad Zainuddin dimakamkan bersebelahan dengan Hayati.

Tujuan Membaca

Tujuan utama dari membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning), erat sekali hubungannya dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca. Berikut ini tujuan membaca yang dikemukakan oleh Anderson sebagi berikut:

  1. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for detail or facts).

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh tokoh, apa-apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah yang dibuat oleh tokoh.

  1. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main idea).

Membaca seperti ini membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita apa-apa yang dipelajari atau dialami tokoh, atau merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya.

  1. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization).

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, ketiga/seterusnya.

  1. Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.

  1. Membaca untuk mengelompokan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar.

  1. Membaca untuk menilai, membaca untuk mengevaluasi (reading to evaluate)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah ikita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja dalam cerita itu.

  1. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai kesamaan.[1]

Sedangkan Heilman mengemukakan beberapa manfaat dan tujuan membaca yang dimaksudkannya itu, antara lain, sebagai berikut:

  1. Menambah atau memperkaya diri dengan berbagai informasi tentang topik-topik yang menarik.
  2. Memahami dan menyadari kemajuan pribadinya sendiri.
  3. Membenahi atau meningkatkan pemahamannya tentang masyarakan dan dunia atau tempat yang dihuninya.
  4. Memperluas cakrawala wawasan atau pandangan dengan jalan memahami orang-orang lain dan bagian atau tempat-tempat lain.
  5. Memahami lebih cermat atau lebih mendalam tentang kehidupan pribadi orang-orang besar atau pemimpin terkenal dengan membaca biografinya.
  6. Menikmati dan ikut merasakan liku-liku pengalaman pertualang dan kisah percintaan orang lain.

Atas dasar tujuan dan manfaat membaca yang dikemukan oleh Heilman itu, dapat disimpulakan bahwa tujuan membaca itu pada dasarnya terbagi (a) membaca untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, dan (b) membaca untuk memperoleh kepuasan dan kenikmatan emosional artistik.[2]

Selanjutnya tujuan membaca juga dikemukakan oleh Gray dan Roger menyebutkan bahwa dengan membaca seseorang antara lain dapat:

  1. Mengisi waktu luang
  2. Mengetahui hal-hal aktual yang terjadi di lingkungan
  3. Memuaskan pribadi yang bersangkutan
  4. Memenuhituntutan praktis kehidupan sehari-hari
  5. Meningkatkan minat terhadap sesuatu lebih lanjut
  6. Meningkatkan pengembangan diri sendiri
  7. Memuaskan tuntutan intelektual [3]

 

Catatan kaki:

[1] Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Kereampilan Berbahasa, h. 9-11.
[2] Abd. Rahman H.A. dkk, Minat Baca Murid Sekolah Dasar di Jawa Timur. (Jakarta, Depdikbud: 1985), h. 9.
[3] Mudjito, Pembinaan Minat Baca, (Jakarta, UT: 2001), h. 62.

Pengertian Membaca

Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills).

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan atau dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.[1]

Anderson secara singkat dan sederhana mencoba mendefinisikan membaca sebagai proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis. Finnochiaro dan Bonomo mencoba mendefenisikan membaca sebagai proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis (reading is bringing meaning to and getting meaning from printed or written material). Kedua pengertian membaca tersebut oleh para pakar membaca umumnya digolongkan sebagai kegiatan membaca literal. Artinya, pembaca hanya menangkap informasi yang tercetak secara literal (tampak jelas) dalam bacaan atau informasi yang ada dalam baris-baris bacaan (reading the lines).[2]  Pembaca tidak lagi menangkap makna yang lebih dalam lagi yaitu makna yang terdapat dibalik baris-baris tersebut.

Sedangkan Goodman menyatakan bahwa membaca bukan hanya sekadar menuntut kemampuan mengambil dan memetik makna dari materi yang tercetak, melainkan juga menuntut kemampuan menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. Oleh karena itu membaca dapat kita defenisikan sebagai kegiatan memetik makna atau pengertian bukan hanya dari deretan kata yang tersurat saja (reading the lines) melainkan juga makna yang terdapat di antara baris. (reading between the lines), bahkan juga makna yang terdapt dibalik deretan baris tersebut (reading beyond the lines).

Defenisi membaca juga dikemukan oleh Gillet and Temple, keduanya mengatakan bahwa Reading is making sense of written language. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis. Jadi menurut definisi ini kegiatan yang paling mendasar dari proses membaca adalah membuat pengertian. Maksudnya ialah memperoleh dan menciptakan gagasan, informasi, serta imaji, mental dari segala sesuatu yang dicetak. Memberi makna sering disebut memahami.[3] Dalam prosesnya kegiatan membaca ini juha tidak lagi pasif melainkan sebagai proses yang aktif. Dengan demikian dalam tataran yang lebih tinggi membaca bukan hanya memahami lambang-lambang bahasa tulis melainkan pula berusaha memahami, menerima, menolak, membandingkan, dan meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang.

 

Catatan Kaki:

[1] Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa,(Bandung, Angkasa: 2008), h. 7.
[2] Kholid Harras, dkk, Membaca 1, (Jakarta, UT: 2007), h. 1.8.
[3] Ibid, h. 1.9.

Malam

Malam mengenalkanku manis dan hangatnya kopi di antara tawa.
Malam adalah masa di mana barisan cerita harus direnungkan.
Malam adalah jutaan warna dalam satu warna.
Malamku adalah malammu.

Antara aku, kamu dan malam.
Malammu adalah malamku.
Antara kamu, aku dan malam
Berpadu dalam alunan lagu merdu membawa rindu.


Malam demi malam berlalu,
rindu demi rindu menderu.


Temaram, kau adalah saksi.
Saksi ketika bayang-bayang itu merasuk dan membawaku ke dunia rindu.


Pagi, mendekatlah…
Duka semalam haruslah usai, perjalananku masih panjang, aku harus pergi menjemputmu.

 

Pondok Labu, 2016

_Biorhimitzu_

Ramai mana?

Minggu siang,

di sebuah pusat belanja pinggir Jakarta.

Berdiri dan terdiam,

di depan dua toko.

 

Ramai mana,

toko baju atau toko buku?

 

Ya,

semua orang pasti tahu apa jawabannya!

 

 

Cinere, 2016

 

_Biorhimitzu_

Selamat Ujian Devonshire

Tidak terasa hampir dua tahun berlalu.
Suka dan duka hilir berganti,
seiring dengan bergulirnya waktu

Bersama kalian,
kulihat indahnya sebuah perjalanan.
Perjalanan di mana pertemanan
bermetamorfosis menjadi lebih kuat dan indah.

Bersama kalian,
kuingat lagi arti sebuah persahabatan
seperti saat masih putih abu-abu.
Masa di mana persahabatan
akan berubah menjadi sebuah
kisah klasik untuk masa depan.

Devonshire,
Teruslah melangkah bersama,
meski ruang dan waktu sudah tak sama.
Teruslah melangkah bersama,
gapai cita-cita dan buat bangga orang tua
Teruslah melangkah bersama,
menggapai ridho dan cinta-Nya.

Devonshire,
Selamat menempuh Ujian Nasional 2016.
Semoga diberi kemudahan, dan
sukses untuk kalian semua.

Ingatlah,
Ini bukan akhir cerita,
inilah awal dari cerita baru kalian.

 
Pondok Labu, 2016

Pendekatan dalam Kajian Sastra

  1. Pendekatan Mimetik

Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan. Mimetik dalam bahasa yunani “mimesis” yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini, karya sastra merupakan hasil tiruan atau cermin dari kehidupan. Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan menggunakan pendekatan mimetik, dibutuhkan data-data yang berkaitan dengan realitas kehidupan yang ada dalam karya sastra tersebut. Contohnya, sebuah cerita yang bersetting abad- 18 diperlukan data- data yang berkaitan realitas kehidupan masyarakat pada masa tersebut.

Karena pendekatan mimetik menghubungkan karya sastra dengan realitas, maka kemudian muncul anggapan bahwa karya merupakan cerminan dari realitas, sehingga hakikat karya sastra yang bersifat fiktif sering kali dilupakan. Hal ini sangat berbeda dengan makna karya sastra yang merupakan hasil karangan fiktif pengarang.

  1. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra tersebut. Pendekatan ekspresif muncul pada abad ke-18 dan 19, yaitu ketika para pengritik mencoba menyelami jiwa penyair melalui puisi- puisinya.

Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan pendekatan ekspresif diperlukan data-data yang berhubungan dengan sastrawan yang membuat karya sastra tersebut, seperti dimana dia tinggal, dimana dia dilahirkan, kapan dia hidup, bagaimana latar belakang pendidikan, keluarga, sosial, budaya, agama, dan lain sebagainya. Dengan adanya data tersebut, akan lebih mudah dalam mengkaji karya sastra tersebut, seperti pengaruh waktu pengarang hidup dengan isi karya sastra yang dibuatnya. Dengan gambaran waktu yang sama antara waktu pengarang hidup dengan waktu yang terdapat dalam karya sastra tersebut membuat hasil karya sastra tersebut menjadi lebih hidup dibandingkan dengan karya sastra dimana waktu dalam karya sastra tersebut berbeda dengan waktu si pengarang hidup.

Kelemahan dari pendekatan ekspresif adalah kecenderungan untuk selalu menyamakan realitas dalam karya sastra tersebut dengan realitas yang dialami oleh sastrawan. Padahal dalam kenyataannya tidak semua karya sastra merupakan cerminan realitas si pengarang.

  1. Pendekatan Pragmatik

Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral agama atau tujuan yang lainnya. Pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran yang diberikan kepada pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut. Contohnya dalam novel Atheis dimana Hasan ombang–ambingkan keimanannya. Hal tersebut dapat dikaji nilai kereligiusannya.

  1. Pendekatan Objektif

Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri. Wellek & Warren (1990) menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur koherensi (antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat) dan kebenaran sendiri. Unsur intrinsik yang dikaji dengan menggunakan pendekatan objektif dapat berupa diksi, bahasa kiasan, citraan, bunyi, persajakannya dan lain-lain.

Hujan, Aku Rindu Hadirmu

Hai hujan,

Apa kabarmu di sana?

Tentu baik-baik saja bukan?

Sudah hampir lima bulan loh kamu pergi.

Sumur-sumur kita sekarang mulai kering loh.

Pepohonan pun banyak yang ikut kering

Ke sini deh,

Kamu ingat danau di ujung jalan itu?

Danau buatan leluhur kita jadi padang rumput loh.

Para pemancing entah bekerja apa sekarang.

Oh ya ada lagi,

Ada yang mandi dan cuci baju di sungai loh sekarang.

Kamu tahu kan seperti apa keadaan sungai kita?

Hai hujan,

Aku rindu hadirmu.

_Biorhimitzu_