Malam

Malam mengenalkanku manis dan hangatnya kopi di antara tawa.
Malam adalah masa di mana barisan cerita harus direnungkan.
Malam adalah jutaan warna dalam satu warna.
Malamku adalah malammu.

Antara aku, kamu dan malam.
Malammu adalah malamku.
Antara kamu, aku dan malam
Berpadu dalam alunan lagu merdu membawa rindu.


Malam demi malam berlalu,
rindu demi rindu menderu.


Temaram, kau adalah saksi.
Saksi ketika bayang-bayang itu merasuk dan membawaku ke dunia rindu.


Pagi, mendekatlah…
Duka semalam haruslah usai, perjalananku masih panjang, aku harus pergi menjemputmu.

 

Pondok Labu, 2016

_Biorhimitzu_

Ramai mana?

Minggu siang,

di sebuah pusat belanja pinggir Jakarta.

Berdiri dan terdiam,

di depan dua toko.

 

Ramai mana,

toko baju atau toko buku?

 

Ya,

semua orang pasti tahu apa jawabannya!

 

 

Cinere, 2016

 

_Biorhimitzu_

Selamat Ujian Devonshire

Tidak terasa hampir dua tahun berlalu.
Suka dan duka hilir berganti,
seiring dengan bergulirnya waktu

Bersama kalian,
kulihat indahnya sebuah perjalanan.
Perjalanan di mana pertemanan
bermetamorfosis menjadi lebih kuat dan indah.

Bersama kalian,
kuingat lagi arti sebuah persahabatan
seperti saat masih putih abu-abu.
Masa di mana persahabatan
akan berubah menjadi sebuah
kisah klasik untuk masa depan.

Devonshire,
Teruslah melangkah bersama,
meski ruang dan waktu sudah tak sama.
Teruslah melangkah bersama,
gapai cita-cita dan buat bangga orang tua
Teruslah melangkah bersama,
menggapai ridho dan cinta-Nya.

Devonshire,
Selamat menempuh Ujian Nasional 2016.
Semoga diberi kemudahan, dan
sukses untuk kalian semua.

Ingatlah,
Ini bukan akhir cerita,
inilah awal dari cerita baru kalian.

 
Pondok Labu, 2016

Pendekatan dalam Kajian Sastra

  1. Pendekatan Mimetik

Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan. Mimetik dalam bahasa yunani “mimesis” yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini, karya sastra merupakan hasil tiruan atau cermin dari kehidupan. Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan menggunakan pendekatan mimetik, dibutuhkan data-data yang berkaitan dengan realitas kehidupan yang ada dalam karya sastra tersebut. Contohnya, sebuah cerita yang bersetting abad- 18 diperlukan data- data yang berkaitan realitas kehidupan masyarakat pada masa tersebut.

Karena pendekatan mimetik menghubungkan karya sastra dengan realitas, maka kemudian muncul anggapan bahwa karya merupakan cerminan dari realitas, sehingga hakikat karya sastra yang bersifat fiktif sering kali dilupakan. Hal ini sangat berbeda dengan makna karya sastra yang merupakan hasil karangan fiktif pengarang.

  1. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra tersebut. Pendekatan ekspresif muncul pada abad ke-18 dan 19, yaitu ketika para pengritik mencoba menyelami jiwa penyair melalui puisi- puisinya.

Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan pendekatan ekspresif diperlukan data-data yang berhubungan dengan sastrawan yang membuat karya sastra tersebut, seperti dimana dia tinggal, dimana dia dilahirkan, kapan dia hidup, bagaimana latar belakang pendidikan, keluarga, sosial, budaya, agama, dan lain sebagainya. Dengan adanya data tersebut, akan lebih mudah dalam mengkaji karya sastra tersebut, seperti pengaruh waktu pengarang hidup dengan isi karya sastra yang dibuatnya. Dengan gambaran waktu yang sama antara waktu pengarang hidup dengan waktu yang terdapat dalam karya sastra tersebut membuat hasil karya sastra tersebut menjadi lebih hidup dibandingkan dengan karya sastra dimana waktu dalam karya sastra tersebut berbeda dengan waktu si pengarang hidup.

Kelemahan dari pendekatan ekspresif adalah kecenderungan untuk selalu menyamakan realitas dalam karya sastra tersebut dengan realitas yang dialami oleh sastrawan. Padahal dalam kenyataannya tidak semua karya sastra merupakan cerminan realitas si pengarang.

  1. Pendekatan Pragmatik

Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral agama atau tujuan yang lainnya. Pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran yang diberikan kepada pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut. Contohnya dalam novel Atheis dimana Hasan ombang–ambingkan keimanannya. Hal tersebut dapat dikaji nilai kereligiusannya.

  1. Pendekatan Objektif

Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri. Wellek & Warren (1990) menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur koherensi (antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat) dan kebenaran sendiri. Unsur intrinsik yang dikaji dengan menggunakan pendekatan objektif dapat berupa diksi, bahasa kiasan, citraan, bunyi, persajakannya dan lain-lain.

Hujan, Aku Rindu Hadirmu

Hai hujan,

Apa kabarmu di sana?

Tentu baik-baik saja bukan?

Sudah hampir lima bulan loh kamu pergi.

Sumur-sumur kita sekarang mulai kering loh.

Pepohonan pun banyak yang ikut kering

Ke sini deh,

Kamu ingat danau di ujung jalan itu?

Danau buatan leluhur kita jadi padang rumput loh.

Para pemancing entah bekerja apa sekarang.

Oh ya ada lagi,

Ada yang mandi dan cuci baju di sungai loh sekarang.

Kamu tahu kan seperti apa keadaan sungai kita?

Hai hujan,

Aku rindu hadirmu.

_Biorhimitzu_

Sinopsis Novel Pertemuan Dua Hati Karya NH. Dini

Ada sebuah keluarga di Kota Semarang yang terdiri dari seorang ibu bernama Bu Suci, suaminya, tiga orang anaknya, dan bibinya. Dulu mereka tinggal di Purwodadi, karena pekerjaan suaminya, Bu Suci dan keluarga terpaksa pindah ke kota Semarang, dan meninggalkan profesinya sebagai guru. Suami Bu Suci sangat pengertian terhadap keluarganya. Dia selalu mendukung apa saja yang Bu Suci lakukan selama itu benar. Bahkan dia ingin mencari pekerjaan buat Bu Suci sebagai guru lagi karena sudah sangat ingin mengajar seperti di Purwodadi dulu.

Pada suatu hari ketika mengantarkan anaknya ke sekolah, dia disetujui untuk menjadi seorang guru di sekolah dasar dimana anaknya bersekolah. Bu Suci melalui hari pertama mengajar secara normal. Tapi, ia mulai merasa ada suatu yang aneh yang terjadi pada kelas tersebut. Bu Suci berusaha untuk tidak pernah mencampurkan persoalan pribadi dengan persoalan di dalam pekerjaannya. Bu Suci berupaya profesional dengan bisa membagi waktu, agar anak-anaknya tidak pernah merasa kehilangan sosok ibu di rumah tangga.

Pada minggu pertama mengajar, Bu Suci makin terbiasa dengan keadaan di sekolah tersebut. Tapi sekarang ia mulai mengerti apa yang mengganjal didalam pikirannya. Seorang murid bernama Waskito ternyata telah menarik perhatiannya. Setiap kali ditanya tentang murid tersebut, semua anak seolah terdiam dan tidak ingin memberi jawaban pada Bu Suci. Tapi perlahan-lahan Bu Suci pun mendapatkan jawaban atas semua yang terjadi. Ternyata muridnya yang bernama Waskito tersebut salah satu murid yang bandel, sukar diatur, dan selalu membuat keonaran di sekolah. Siswa di sekolah selalu menjauhi dia dan takut jika bermasalah dengannya. Menurut informasi yang didapat, Waskito seringkali memukul dan menjahili temannya yang ada di kelas, tanpa sebab apa pun, atau mereka merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang membuat Waskito marah. Sebagai seorang guru, Bu Suci merasa ada hal yang perlu ia selesaikan dan ia ingin terlibat jauh pada masalah itu. Dorongan hati yang kuat membuat Bu Suci semakin ingin membantu Waskito menyelesaikan masalahnya.

Di lain pihak, ada suatu hal yang membuat Bu Suci terpukul. Ternyata anak keduanya telah di vonis oleh dokter mengidap penyakit ayan, sehingga kesehatannya perlu dijaga serta ia tidak boleh banyak beraktivitas. Banyak masalah besar yang dihadapi Bu Suci. Di satu pihak ia ingin sekali berada di kelas serta mengetahui perkembangan muridnya yang nakal tersebut. Tapi di pihak lain ia harus bersusah payah mengantar anaknya ke rumah sakit untuk berobat.

Hingga pada suatu hari Bu Suci mengunjungi kediaman kakek dan nenek Waskito untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin. Ia pun tahu bahwa Waskito sebenarnya adalah anak yang baik, tapi karena perilaku orang tuanya yang memperlakukannya dengan tidak baik maka ia pun menjadi murid yang nakal. Neneknya mengatakan bahwa ayahnya sering memukul Waskito tanpa alasan yang jelas jika Waskito melakukan suatu kesalahan tanpa memberikan pengarahan yang baik. Tapi ibunya selalu memanjakannya sehingga Waskito tidak pernah tahu mana yang baik dan buruk. Ketika tinggal bersama neneknya, Waskito menjadi anak yang tahu aturan dan menjadi disiplin. Tapi semenjak orangtuanya memintanya kembali, maka ia kembali menjadi anak yang nakal dan selalu menjahili teman-temannya. Bu suci berusaha membantu permasalahan yang dihadapi oleh Waskito. Seringkali ia memperhatikan semua perilaku Waskito, dan ia perlahan mencoba mendekati Waskito.

Langkah pertama Bu Suci meminta Waskito untuk mengantar makanan pada anak keduanya yang sedang sakit. Bu suci mencoba menggambarkan pada Waskito bahwa ia masih beruntung diberi kesehatan sehingga ia tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak berguna untuk hidupnya. Lalu Bu Suci memberi kepercayaan pada Waskito untuk membuat sesuatu, hingga pekerjaan yang dilakukan Waskito dan kelompoknya mendapat penghargaan dari teman-temannya. Waskito diperlakukan baik dan menghargai keberadaannya oleh Bu Suci. Selama ini semua murid yang ada di kelas menganggap Waskito hanya sebagai biang onar dan keributan sehingga keberadaanyya tidak diinginkan dan dibutuhkan. Tapi, perlahan-lahan sekarang Bu Suci mencoba membuat semua hal tersebut musnah. Waskito tidak tinggal bersama orang tuanya lagi, tapi tinggal bersama bibinya, sehingga sedikit demi sedikit ia mulai mendapatkan pelajaran tentang sebuah kasih sayang. Terutama dari keluarga bibinya, yang selalu rukun meskipun keadaan ekonomi mereka sulit.

Di rumah itu mereka kerapkali harus berbagi makanan, karena keterbatasan yang ada. Tapi Waskito merasa senang tinggal di sana. Karena di rumah itu ia mendapat pengajaran tentang sopan santun dan kasih sayang. Ibu Suci merasa lega dengan semua perubahan yang mulai Waskito tunjukkan. Tapi secara tiba-tiba, pada suatu hari Waskito kembali mengamuk lantaran ada seorang yang menghina tanaman yang ia tanam, padahal maksud temannya tersebut hanya sekedar gurauan belaka. Waskito sampai membawa Cutter yang di acuhkan ke udara, namun dengan berani Bu Suci merampas Cutter tersebut dari tangan tersebut saat Waskito lengah. Walaupun tindakan tersebut tidak terlalu berbahaya, tapi semua guru sepakat untuk mengeluarkan Waskito dari sekolah karena sikap Waskito sudah keterlaluan.

Tapi Bu Suci tetap berusaha dan dengan segenap hati meminta agar diberi waktu untuk membimbing Waskito, jika ia gagal jabatannya sebagai guru rela jika harus di cabut. Bu Suci berusaha memberi pengertian kepada Waskito bahwa Waskito akan merubah sikapnya karena selain ia yang harus di keluarkan dari sekolah, tapi juga jabatan Bu Suci sebagai guru juga dipertaruhkan oleh sikap Waskito. Mulai dari peristiwa tersebut Bu Suci dan Waskito semakin dekat dan akhirnya sedikit demi sedikit Waskito mau berbagi cerita dan mau untuk menerima nasihat Bu Suci.

Hingga pada akhir semester Waskito naik kelas dan keluarganya sangat berterimakasih karena mereka tidak menyangka bahwa Waskito dapat merubah sikapnya dan dapat pula naik kelas. Pada masa liburan, Waskito dan keluarga Bu Suci pun berlibur ke desa mereka di Purwodadi. Sejak bertemu dengan Waskito, Bu Suci merasa hatinya telah dipertemukan dengan hati Waskito. Bu Suci bisa menjadi seorang guru yang profesional dalam mengatasi masalah sekolah dan masalah pribadi.

Sastra Bandingan “Review Buku KALAM Jurnal Kebudayaan”

Lisabona Rahman dalam tulisannya yang berjudul “Tragedi Buah Apel (Seks dalam karya Ayu Utami dan Erica Jong).” Di dalam tulisan itu Lisabona memilih satu karya, Saman (terbit 1998) dan membandingkannya dengan karya penulis Amerika Serikat Erica Jong, Fear of Flying (terbit 1973), kedua novel ini di angkat karena pertimbangan mutu yang jauh lebih baik daripada karya-karya perempuan lain yang mengangkat masalah seks dan seksualitas. Selain itu, kedua karya tersebut memperlihatkan bagaimana perempuan memulai pembicaraan tentang seks (kelamin) dan seksualitas (kecenderungan seksual)-nya, sesuatu yang menjadi tabu masyarakat patriarkal[1]).

Cerita Saman dan Fear of Flying bertutur secara tidak linier, berulang-alik antara potongan-potongan masa sekarang dan masa lalu dengan menempuh resiko banyak terjadi pengulangan, dengan menambahkan beberapa detail baru. Kedua novel itu memperlihatkan dua karakter karya feminis yang berlainan. Saman memperlihatkan karakteristik yang disebut oleh Rachel DuPlessis sebagai tekstur estetika perempuan modern: cair, tidak linier, terpencar, nonhirarkis, dan bersuara banyak. Rachel DuPlessis melihat perbedaan antara estetika ini dan roman yang berstruktur linier, kompak, terpusat; di mana pengarang berada dalam posisi pengamat dan pencerita, pemegang kuasa utama untuk mendefinisikan narasi. Pencerita dalam Saman terus berganti-ganti, kadang Laila, Shakuntala, atau Wisanggeni/Saman.

Sementara itu, jauh berbeda dengan kerumitan narasi banyak karakter Saman, Fear of Flying adalah narasi tunggal Isadora yang bukan saja menceritakan peristiwa, tapi juga dialog dalam dirinya sendiri. Fear of Flying adalah novel kuasi-biografi, suatu bentuk yang sangat banyak digunakan oleh penulis perempuan., di mana tokoh utama umumnya menampilkan diri sebagai si pengarang. Tokoh Isandora adalah seorang penulis seperti Erica Jong. Penulis perempuan untuk mengambil peran subyek dan menyuarakan dirinya, sambil mempersalahkan realitas dan kerja perempuan. Dengan menjadi subyek pencerita dan menerbitkan karyanya perempuan tidak hanya menerima monopoli penggambaran oleh laki-laki, tapi menawarkan gambarannya sendiri.

Dalam Saman maupun Fear of Flying pernikahan merupakan awal sebuah masalah atau minimal menyumbang kemunculan masalah. Seks di dalam institusi perkawinan (satu-satunya yang dianggap sah secara hukum dan sosial) adalah sesuatu yang politis, penuh tawar-menawar sosial, dan munafik. Selain itu, keduanya memberikan pemahaman bahwa seks bukan hanya masalah anatomi atau hubungan fisik dalam bentuk sekresi atau ekskresi, melainkan juga sesuatu yang berjalan di dalam kepala.

Gugatan atas hubungan heteroseksual dalam kedua novel muncul tanpa dengan tegas memberi alternatif yang lebih baik. Konsekuensi kepemilikan dari percintaan heteroseksual dalam kedua karya digambarkan memuncak dalam perkawinan. Yang digugat dalam ketimpangan dalam hubungan perempuan dan laki-laki, bukan kecenderungan heteroseksualnya. Posisi hierarkis perempuan dan laki-laki bukan kecenderungan heteroseksualnya. Posisi hierarkis perempuan dan laki-laki membuat kedua jenis kelamin tidak saling mengenai sehingga tidak tahu kapan hubungan seks bisa mengakibatkan kehamilan (Saman, 130) dan tak tahu bahwa penetrasi vaginal bisa sangat menyakitkan (Fear of Flying,185). Ketidaksetaraan hubungan dan keinginan berbeda yang tak mungkin terpenuhi selania wacana seksualitas antara laki-laki dan perempuan tetap asing satu sama lain. Yang satu dianggap sebagai kebenaran sementara yang lain dicap abnormal atau aib.

Pengudaran pengalaman dan pernyataan tentang seksualitas dalam Saman sebagian besar disuarakan oleh Shakuntala yang bercerita tentang sosialisasi seks dirinya dan teman-temannya. Tokoh ini menonjol karena hanya dia dari empat sekawan (Laila, Shakuntala, Cok,Yasmin) yang diberi hampir seluruh jatah bersuara tentang seksualitasnya (kelak dalam Larung suaranya diimbangi oleh Cok). Sedangkan dalam Fear of Flying pernyataan tentang seksualitas dapat dilihat pada tokoh Isadora; Karena seks bukanlah sesuatu yang bisa dibicarakan dalam keluarga, maka Isadora belajar mengenali gender seksualitasnya melalui tulisan laki-laki seperti D. H. Lawrence, Dostoyewski, dan Faulkner. Pada usia 13 tahun, ia pun mulai belajar dari teman-tenian dan kekasihnya. Meski pun Isadora menjalani kehidupan seksual yang relatif bebas dari kontrol keluarga, keluarganya tetap menuntut ia menikah dan melahirkan anak.

Baik Saman maupun Fear of Flying adalah karya yang sangat berhasil dari segi pemasaran, akan tetapi keduanya memicu reaksi penolakan di media massa karena mengangkat masalah seks. Penulis perempuan dianggap telah menguak aib dan merendahkan diri mereka sendiri melalui ungkapan seks yang vulgar. Anggapan “menguak aib” nienunjukkan bahwa yang disebut “aib” itu memang ada, tapi disembunyikan. Itu semua karena seks mendapat perlakuan yang berbeda ketika berada pada ruang publik, dalam hal ini ketika ia menjadi bentuk publisitas.

Dalam Saman hubungan seks merupakan ilustrasi hubungan kuasa atas pendefinisian seksualitas perempuan dan dalam Fear of Flying seks merupakan cara Isadora menemukan diri dan mengembangkan kreativitasnya. Bahasa dalam karya tersebut juga menduduki tempat penting, lebih dari sekadar kendaraan untuk melukiskan sesuatu, melainkan sebagai persoalan yang haruss digeluti dan dipermasalahkan. Penggunaan bahasa sehari-hari yang vulgar dalam Saman dan Fear of Flying merupakan tema bahasan yang banyak diangkat dalam kritik atas keduanya.

Reaksi atas Fear of Flying bisa dikatakan diametral: para kritikus laki-laki menganggap karya ini terlalu vulgar dan agresif, sementara kritikus perempuan merasa karya ini kurang berani. Di luar penggunaan kata-kata yang dianggap tidak patut, cirri yang menonjol pada kedua karya adalah penulisan bahasa dengan nuansa lisan.

Lalu, Lisabona Rahman menjabarkan dalam tulisannya bahwa kedua karya tersebut ada perbedaan konteks budaya penciptaan dan tanggapannya, menarik untuk melihat bahwa kreativitas kedua pengarang perempuan ini mendapatkan tanggapan yang hampir serupa. Dalam Fear of Flying permasalahan perempuan diangkat berkisar pada seksualitas individu. Sedangkan dalam Saman permasalahannya terletak pada konstruksi seksualitas oleh kuasa politik, budaya dan agama.

Keistimewaan kedua pengarang bukan terletak pada penciptaan bahasa maupun bentuk baru, melainkan pada penggunaan dan pemberian definisi baru pada kata-kata dan struktur yang sudah ada. Mereka berdua menyadari rambu-rambu sosial yang ada saat memilih tema dan menuliskannya, akan tetapi bersikeras melakukannya dengan kesadaran penuh.

Menurut Lisabona Rahman, Saman maupun Fear of Flying barangkali adalah buah apel yang telah membukakan mata dan menjadi inspirasi buat pengarang-pengarang setelahnya dan sekaligus menjadi contoh buruk karena telah memainkan batas-batas tabu.

[1] Masyarakat kita sebagai patriarki mendudukan perempuan sebagai subordinat laki-laki.

Review Buku “KEBIJAKAN PEMBARUAN PENDIDIKAN (Konsep, Teori dan Model)” Karya: Dr. Yoyon Bahtiar Irianto, M.Pd.

KEBIJAKAN PEMBARUAN PENDIDIKAN

Konsep, Teori, dan Model

Karya: Dr. Yoyon Bahtiar Irianto, M.Pd.

Buku ini membahas pelaksanaan kebijakan dalam rangka perbaikan dan pengembangan sistem pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan. Sasaran utama adalah para pelaksana kebijakan pada tingkat organisasi paling rendah, yaitu guru, dosen, pamong belajar atau tutor.

Secara umum, model pembaruan pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam dua model, yaitu top down model dan bottom up model. Penulis memberikan beberapa model antara lain: Broad Based Education (BBE), SBM (School Based Management) dan CBM (Community Based Management). Kebijakan BBE berfokus pada pendekatan pendidikan Life-Skills atau pendidikan kecakapan hidup, yang diikuti oleh kebijakan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kebijakan ini pun berbarengan dengan penerapan model SBM (School Based Management) untuk pendidikan jalur persekolahan dan CBM (Community Based Management) untuk pendidikan jalur luar sekolah.

Antara BBE, SBM, CBM, Life-Skills dan KBK mempunyai keterkaitan struktural. BBE dianggap sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pendidikan yang paling efektif untuk tidak membatasi pendidikan pada aspek-aspek atribut formal. SBM dan CBM dianggap sebagai salah satu model manajemen yang dianggap efektif untuk memberikan kemandirian kelembagaan pendidikan pada jalur sekolah (formal) dan pada jalur luar sekolah (non-formal).

Menurut Yoyon Bahtiar Irianto dalam buku tersebut, “Kefakiran terbesar adalah kebodohan, dan karenanya tantangan terbesar dalam pembangunan pendidikan ialah bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat mencegah masyarakatnya menjadi kufur.” Makna kalimat itulah yang harus disadari sepenuhnya oleh segenap elemen pemerintahan dan masyarakat. Bahwa sesungguhnya kekayaan yang paling berharga bagi manusia adalah budi-akal. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut pembaruan pendidikan harus dapat mencegah terjadinya musibah besar bagi masyarakatnya, yaitu keputusasaan. Kebijakan tentang pembaruan yang dirancang sebetulnya tidak akan menjadi persoalan bagi masyarakat, sepanjang kebijakan tersebut memberikan solusi dan manfaat nyata bagi perbaikan dan peningkatan kualitas SDM. Oleh karena itu tidak ada pilihan, pembangunan manusia di Indonesia harus dititikberatkan pada aspek-aspek yang menjadi sumber kekuatan masyarakat dan bangsa, yaitu SDM yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, beriman dan beramal shaleh, dan dilandasi pedoman hidup yang bersumber dari wahyu Tuhan YME, serta diwujudkan dalam perilaku kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Penulis juga menegaskan kembali bahwa kebijakan pembaruan dalam pembangunan bangsa yang harus kita upayakan, pada hakikatnya harus merujuk pada proses rekonstruksi struktur kehidupan yang memberikan pengaruh timbal balik, baik secara kuantitatif maupun kualitatif menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik. Kebijakan yang baik ialah kebijakan yang dapat membantu individu atau masyarakat dalam memecahkan setiap problema kebutuhan, keinginan dan harapan masyarakat yang lebih besar dan menyeluruh. Karena itu, kebijakan dalam pembaruan pendidikan semestinya diupayakan dalam rangka proses-proses penyesuaian diri setiap anggota masyarakat terhadap lingkungan sosial masyarakat pada umumnya.

Kebijakan dalam pembaruan manajemen pendidikan harus dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan ilmunya, harus senantiasa dapat meningkatkan keimanannya, dan kemudian diwujudkan dalam bentuk perilaku amal shaleh sehari-hari, baik shaleh terhadap diri, keluarga, masyarakat, alam, dan Tuhannya. Ilmu dalam pandangan Islam diperoleh dari hasil “belajar membaca” tentang alam dan dari Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Motivasi dan semangat masyarakat dalam mencari ilmu, hanya dapat diperoleh apabila masyarakat itu mempunyai kesempatan, kemauan dan selalu berusaha meningkatkan keimanannya. Begitu pula sebaliknya masyarakat yang mempunyai keimanan, bukan hanya karena mendapat hidayah dan karunia secara tiba-tiba, tetapi dihasilkan dari sebuah proses ikhtiar dan ijtihad yang mustahil tidak mendapatkan suatu hidayah dan karunia dari Tuhan YME. Ketiga unsur ini, yaitu ilmu, iman dan amal merupakan aspek yang patut diupayakan dalam mencapai insan-insan yang berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi.

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa, kefakiran dan kemiskinan masyarakat akan dapat ditangani apabila masyarakat dan pemerintah menyadari dan bersama-bersama berusaha keluar dari belenggu keputusasaan dan kebodohan, belajar dari pengalaman masyarakat dan bangsa kita sendiri, bukan belajar dari pengalaman bangsa lain dan mampu membangkitkan partisipasi masyarakatnya sendiri dalam proses-proses pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu, dalam upaya merumuskan kebijakan dalam pembaruan sistem manajemen pembangunan pendidikan yang berkualitas harus diarahkan pada:

  1. Keberanian untuk meninggalkan perasaan, kebanggan terhadap masa lalu dan diganti dengan orientasi kepada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik di masa depan.
  2. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dirasakan manfaatnya bagi kehidupan hari ini, hari esok dan masa depan.
  3. Kesehatan dan kekuatan jasmani dan rohani sebagai sarana untuk melaksanakan ikhtiar dan berijtihad memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan hidup.
  4. Kepemilikan keimanan tinggi yang dapat memompa semangat berikhtiar dan berijtihad ke arah kehidupan yang lebih baik.
  5. Kepandaian dalam mensyukuri nikmat terhadap karunia Allah SWT yang diwujudkan dalam keshalehan pribadi dan keshalehan sosial.
  6. Kepemilikan dalam kesabaran dan keuletan dalam memperjuangkan kebutuhan, keinginan dan harapan-harapan hidup.
  7. Pemanfaatan kekayaan yang paling berharga yaitu, akal sebagai alat dalam memperjuangkan kebutuhan, keinginan dan harapan-harapannya.
  8. Peningkatan harkat dan martabat dan kemuliaan diri keluarga masyarakat, dan bangsanya melalui peningkatan akhlak dan budi pekertinya yang sesuai dengan pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  9. Peningkatan kemandirian yang dapat dijadikan modal utama untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsanya.
  10. Peningkatan apresiasi rasa hormat dan kesetiaan terhadap masyarakat dan bangsanya sendiri.

🙂 KEKURANGAN DAN KELEBIHAN BUKU:

  • Kekurangan:
  • Dalam hal teori memang buku ini cukup baik, namun dalam penggambaran kurang, hal tersebut dikarenakan tidak adanya contoh-contoh yang riil, yang mampu menggugah para pelaksana pendidikan untuk menerapkannya.
  • Pendidikan dan peradaban atau sejarah pendidikan itu merupakan pembelajaran yang cukup membingungkan, seharusnya di buku ditambah sebuah timeline untuk memudahkan dalam hal penggambarannya.

 

  • Kelebihan:
  • Buku ini mampu memberikan teori dan gambaran-gambaran berbagai kebijakan-kebijakan untuk pendidikan masa lalu yang seharusnya ada sebuah perubahan dan memang harus lebih di optimalkan, karena semua itu demi kemajuan dunia pendidikan, khususnya di Indonesia.
  • Buku ini mampu menjawab dan memberikan solusi atas permasalahan dunia pendidikan yang tengah labil dan kurang diperhatikan. Sehingga setelah membaca buku ini diharapkan pemerintah dan masyarakat berbenah diri sebelum membenahi permasalahan-permasalahan yang ada, khususnya pendidikan.
  • Buku ini mampu memberi referensi untuk setiap kebijakan dalam aspek pembaruan pendidikan sehingga mampu diapresiasi dan dilaksanakan dengan jelas. Jelas di sini maksudnya dalam upaya meningkatkan efektifitas dan efisiensi rumusan, implementasi, dan evaluasi kebijakan dalam dalam pembangunan pendidikan melalui pembaruan sistem manajemen pendidikan.
  • Buku ini mampu memberitahu kita bahwa kebijakan pendidikan dapat dijadikan instrumen untuk melakukan perubahan, penyesuaian dan inovasi-inovasi ke arah yang lebih memberikan manfaat nyata.
  • Buku ini mampu menyadarkan kita bahwa manajemen pembangunan pendidikan harus dilaksanakan sekarang dan menyeluruh agar tidak mengakibatkan kerugian bagi generasi berikutnya.
  • Buku ini mampu menunjang pembelajaran bagi yang sedang menempuh pendidikan S1, S2, dan S3 yang konsentrasinya pada ilmu Kependidikan atau Tarbiyah.
  • Buku ini juga mampu dan bermanfaat bagi para pembuat kebijakan di setiap level pendidikan: Dasar, Menengah dan Pendidikan Tinggi, serta para pembuat kebijakan di tingkat eksekutif dan legislatif.

Sastra Bandingan Kisah Cinderella (Cinderella versi Yunani dengan Cinderella versi Film Ever After)

Kisah Cinderella, siapa yang tidak tahu dongeng dunia ini. Dongeng ini sering disebut-sebut berasal dari Yunani yang dianggap versi tertua dari cerita, dicatat oleh Strabo sejarawan Romawi di abad pertama SM.

Dalam dongeng ini diceritakan tentang seorang gadis bernama Rhodopis. Dia lahir di Yunani, tetapi ia telah diculik oleh bajak laut dan dibawa ke Mesir di mana ia dijual sebagai budak. Majikannya adalah seorang pria tua yang baik. Pria ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Rhodopis adalah seorang gadis cantik dengan mata berwarna hijau, rambut keriting yang berwarna keemasan dan kulitnya putih. Hal ini membuatnya tampak berbeda dengan pelayan-pelayan yang lain.

Pelayan-pelayan wanita yang lain merasa iri padanya, sehingga Rhodopis selalu diperlakukan kasar oleh mereka. Mereka memerintahkan Rhodopis untuk mencuci baju, membersihkan kebun, dan memanggang roti. Ia tidak memiliki teman manusia, hanya seekor binatang yang selalu setia menemaninya. Suatu malam Rhodopis sedang menari-nari di taman, lalu pria tua majikannya melihat dan mengamati tariannya. Ia sangat merasa kagum dengan tarian Rhodopis. Pria tua tersebut lalu membelikannya sepasang sandal. Sandal yang terbuat dari kulit berwarna merah emas dan terlihat sangat indah. Pelayan-pelayan wanita yang lainpun menjadi semakin membencinya.

Suatu hari, Firaun mengadakan sebuah pesta dan mengundang kerajaan lain untuk datang. Rhodopis dan pelayan-pelayan wanita lainnya tentu juga sangat menginginkan untuk pergi ke pesta tersebut. Sebagian dari pelayan-pelayan wanita itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk hadir ke pesta. Mereka melimpahkan semua tugasnya kepada Rhodopis dan melarangnya untuk pergi ke pesta. Rhodopis pun merasa sedih, lalu ia mencuci pakaian di sungai. Ketika ia sedang mencuci ia melihat seekor elang turun dan mengambil salah satu sandalnya dan elang itu langsung terbang tinggi entah kemana.

Firaun yang sedang duduk termenung saat pesta itu merasa terkejut dengan seekor elang yang tiba-tiba menghampirinya dan menjatuhkan sebuah sandal di pangkuannya. Karena merasa tertarik dengan sandal tersebut, Firaun memerintahkan anak buahnya untuk mencari wanita yang memiliki sandal itu. Begitu banyak rumah yang dikunjungi, namun tak juga menemukan pemiliknya. Sampai akhirnya di rumah pria tua tempat Rhodopis tinggal. Sementara para pelayan wanita sibuk mencoba sandal tersebut, Rhodopis bersembunyi di balik rerumputan. Firaun melihatnya dan memintanya untuk mencoba sandal tersebut.

Rhodopis lalu mencoba sandal itu dan mengeluarkan pasangannya. Setelah melihatnya, Firaun pun mengatakan bahwa Rhodopis akan menjadi ratunya. Para pelayan wanita lain merasa marah dan mengatakan bahwa Rhodopis hanyalah seorang budak dan bukan seorang gadis Mesir. Namun, Firaun tidak peduli dan tetap menjadikan Rhodopis sebagai ratunya. Akhirnya Rhodopis dan Firaun hidup bahagia selamanya.

Banyak kisah-kisah di dunia mengadaptasi dari kisah Cinderella ini, baik dalam bentuk cerita rakyat, film, lukisan maupun lagu. Dan yang yang akan dibahas kali ini adalah Ever After (1998) yang disutradarai oleh Andy Tenat, dan dimainkan oleh Danielle De Barbarac (Drew Barrymore), Pangeran Henry (Dougray Scott), Baroness Rodmilla De Ghent (Anjelica Huston), Marguerite (Megan Dodd) dan Jacqueline (Melanie Lynskey).

Menurut film ini, Danielle De Barbarac adalah kisah hidup dari Cinderella yang tinggal di Prancis. Danille adalah seorang perempuan muda yang cerdas, humoris, dan penuh semangat. Sama seperti cerita Cinderella, ayahnya juga wafat, dan ia terpaksa hidup bersama ibu tiri (Rodmilla) dan dua orang saudara tiri perempuannya, Marguerite dan Jacqueline. Ia dipaksa bekerja menjadi seorang pembantu oleh ibu dan salah satu saudara tirinya Marguerite.

Berbeda dengan saudaranya, Jacqueline selalu bersikap baik pada Danielle, namun ia tidak berani membela Danielle dihadapan ibu dan saudaranya. Berbeda dengan Cinderella dan pangeran dalam cerita yang jatuh cinta pada pandangan pertama, Danielle sudah beberapa kali bertemu dengan Pangeran Henry sebelum akhirnya mereka saling jatuh cinta. Danielle bertemu dengan Pangeran Henry saat ia membuat jatuh seorang pemuda yang berusaha mencuri seekor kuda milik  Ibu tirinya.

Ternyata pemuda tersebut bukanlah pencuri biasa karena ia adalah Pangeran Henry, putra mahkota kerajaan Perancis yang berusaha melarikan diri lantaran tidak ingin terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta yang diatur ayahnya. Lalu mereka bertemu kembali saat Danielle sedang menyamar sebagai seorang bangsawan atau countess untuk menyelamatkan seorang pelayan keluarganya dari penjara karena berutang. Danielle sempat terlibat dalam perdebatan seru dengan Pangeran Henry. Putra mahkota tersebut merasa mengenali Danielle, namun tidak ingat namanya.

Pangeran Henry yang merasa kagum akan keberanian dan semangat yang dimiliki oleh Danielle pun akhirnya jatuh cinta padanya. Sang pangeran berusaha untuk menemukan Danielle. Danielle yang juga mencintai pangeran berusaha menghindarinya karena takut pangeran akan menjauhinya jika mengetahui bahwa ia bukanlah bangsawan. Akhirnya kerjaan mengadakan sayembara untuk mencari calon istri untuk pangeran Henry. Saudara tiri Danielle yang bernama Marguerite memenangkan sayembara tersebut. Namun pada akhirnya Pangeran Henry menikah dengan Danielle berkat bantuan seseorang yang bernama Leonardo DaVinci. Mereka pun hidup bahagia.

Berikut adalah persamaan dan perbedaan antara Cinderella asli Yunani dengan film Ever After:

Persamaan & Perbedaan Cinderella versi Yunani Cinderella versi Film Ever After
Persamaan §  Tokoh Cinderella memiliki sikap yang baik dan wajah yang cantik.

§  Banyak wanita yang selalu merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh tokoh Cinderella.

§  Mengalami siksaan dan dipaksa membersihkan rumah.

§  Menikah dengan pangeran yang dicintainya.

Perbedaan § Tidak memiliki ibu dan saudara tiri.

§ Pandai menari.

§ Memiliki sepasang sandal yang salah satunya diambil oleh burung elang dan menjadi petunjuk bagi pangeran.

§ Memiliki ibu dan saudara tiri.

§ Salah satu saudara tirinya bersikap baik dan tidak suka memerintah.

§ Menolong ibu dan saudara tirinya dari penjara.

§ Sudah pernah bertemu dengan pangeran beberapa kali.

§ Dapat menikah dengan pangeran karena bantuan orang lain.

_Biorhimitzu_

PASIF

Tiba-tiba, aku jadi teringat…

Teringat bagaimana cueknya aku kala itu;

Teringat bagaimana cara belajarku kala itu;

Teringat bagaimana bencinya aku kala itu.

Semua itu berjalan hingga belasan tahun.

Aku pasrah dengan kosa kata yang kupunya;

Aku pasrah dengan tata kata yang kuketahui;

Aku pasrah dengan tata kalimat yang kukuasai.

Kini, masa-masa itu telah kulewati,

perlahan namun pasti.

Beriringan pergi bersama apa yang kupunya, kuketahui dan kukuasai.

Hanya reruntuhannya sajalah yang tersisa di kepala.

Berantakan, berserakan tak tertata dengan rapi.

Pernah sekali waktu,

mereka berlari dan berteriak memanggil-manggil aku.

Aku hanya menoleh,

lalu memalingkan lagi wajahku.

Benih itu kini mulai berbunga.

Bunga yang kuat tapi tak bersua.

Hanya mampu mendengar dan mengangguk.

Tanpa bisa menjawab atau mengkritik.

_Biorhimitzu_