Monthly Archives: Februari 2012

Contoh-contoh Maksim

Maksim merupakan kaidah-kaidah yang mengatur tindakan, penggunaan bahasa, dan interpretasi-interpretasi terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya.

  • Maksim dalam prinsip kerja sama Grice:
  1. 1.      Maksim Kuantitas

Contoh: a. Saya sedang makan di Warteg.

b. Anak laki-laki tetangga saya kemarin disunat. (salah)

Anak tetangga saya kemarin disunat. (benar)

  1. 2.      Maksim Kualitas

Contoh: a. Hari ini mendung. (Diucapkan pada saat memang cuaca sedang mendung.)

b. Ketua kelas PBSI V/B saat ini Bayu Indriyanto.

  1. 3.      Maksim Relevansi

Contoh:a. X : Kamu kenapa dek, ko tidak telepon aku?
      Y : Aku tidak punya pulsa mas.
      X : Habis kenapa, mau mas transfer pulsa.

            b. Mama: Dik, kamu kok tidak kuliah?

               Adik:   Badanku panas mah..

              Mama: Panas kenapa, mama ambilkan paracetamol ya!

  1. 4.      Maksim Pelaksanaan

Contoh: a. “Saya sedang mengerjakan tugas Pragmatik.”

b. X: “Ayo cepat diangkat!”

Y: “Sebentar, masih aron”

Konteks: Dituturkan oleh seseorang kepada teman kosannya ketika memasak nasi.

  • Maksim dalam prinsip kesantunan:
  1. 1.      Maksim Kedermawanan

Contoh: a. Tio: Mari saya kembalikan bukumu! Bukuku tidak banyak kok yang harus dikembalikan ke Perpustakaan.

Mato: Tidak usah io, nanti sore saya akan ke Perpustakaan kok.

b. Budi: Wah, bensin motorku agak sedikit kurang.

Bayu: Pakai bensinku juga boleh. Sebentar saya sedot dulu ya!

  1. 2.      Maksim Penghargaan

Contoh: a. A (Pelajar): “Maaf, aku pinjam pekerjaan rumahnya.

Aku tidak bisa mengerjakan tugas itu sendiri.”

B (Pelajar): “Payah… Ini, cepat kembalikan.”

Konteks: Dituturkan oleh seorang pelajar kepada temannya ketika mereka baru saja sampai pintu gerbang sekolahnya.

b. Arif: “Bay, sepatu ini keren tidak buat saya?”

Bayu: “Sepatu itu keren sekali buat kamu. Tapi sepatu itu pasti rusak kalau untuk main futsal.

  1. 3.      Maksim Kesederhanaan

Contoh:a. A (Mahasiswa): Dik, nanti rapatnya dibuka dengan doa dulu, ya!

Adik yang memimpin.

B (Mahasiswa): Iya kak. Tapi, saya jelek, lho!

Konteks: Dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada mahasiswa lain yang masih junior pada saat mereka bersama-sama di kantor organisasinya.

  1. b.      Adi: “Wah enak sekali masakanmu!”

Ria: “Ini juga baru latihan masak mas.”

  1. 4.      Maksim Permufakatan

Contoh: Bayu: “Nanti malam kita makan bersama ya, Ri?”

Ria:    “Boleh, saya tunggu di Bakso Pakde.”

Konteks: Dituturkan oleh seseorang kepada teman perempuannya pada saat mereka bertemu di kelasnya.

  1. 5.      Maksim Simpati

Contoh:a. Aji: “Jo, nenekku meninggal.”

Jojo:“Innaillahiwainnaillahi rojiun. Ikut berduka cita”

Konteks: Dituturkan oleh seseorang kepada sahabatnya pada saat mereka berada di ruang kerja mereka.

              b. Suami: “Badanku pegal-pegal, hari ini warung rame banget”

Istri:     “Mandi  dulu sana, nanti saya pijetin.”

Iklan

Aku bulanmu dan kamu bumiku

Bukan maksudku membuatmu berpikir dan berbicara sendiri

Membiarkan yang lain menekanmu serutin mungkin

Tanpa tahu apa yang sebenarnya tersimpan juga yang terjadi

Ini bukan hanya sebuah kenangan tapi ini sebuah perjalanan

Sejujurnya ku tak mau meninggalkanmu seperti ini

Bukan dengan senyuman tapi dengan tekanan perasaan

 

Keadaan tak mungkin lagi kita tangisi dan salahi

Karena kita tak mungkin membengkokkan jalan

Takdir telah kita gariskan dan kita sepakati

Mauku, maumu, dan maukita adalah pilihan

Aku menerima dengan cinta dari dalam hati

Aku dan kamu akan selalu berjalan bersisian

 

Selamat Idul Fitri karya K.H.A. Mustofa Bisri

Sebagai seorang ulama dan penyair, K.H.A. Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus telah memberikan bentuk keindahan yang padat makna dan isi. Seperti kita ketahui bersama ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Begitu pula dengan Gus Mus yang merupakan Rais Syuriah PBNU, meski dia anggota Dewan Penasihat DPP PKB, meski dia Pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Thalibien di Rembang. Menurut beliau, “kegiatan puisi telah menjadi kegiatan yang mendarah daging dan bersastra itu sudah menjadi tradisi para ulama sejak dulu !”

“Sahabat-sahabat Nabi itu semua penyair, dan Nabi Muhammad SAW pun gemar mendengarkan mereka bersyair. Pernah Rasulullah kagum pada syair ciptaan Zuhair, sehingga beliau melepas pakaian dan menyerahkan kepadanya sebagai hadiah !”

“Al Qur’an sendiri merupakan mahakarya sastra yang paling agung !”, katanya. Maka dari itu kini banyak ulama atau sastrawan-sastrawan berlatar belakang agama yang mengambil bagian dan memberikan angin segar dalam blantika sastra Indonesia.  Berikut adalah salah satu puisi karya Gus Mus yang cukup menarik:

Selamat Idul Fitri

Selamat idul fitri, bumi
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak semena-mena
Kami memperkosamu

Selamat idul fitri, langit
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak henti-hentinya
Kami mengelabukanmu

Selamat idul fitri, mentari
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak bosan-bosan
Kami mengaburkanmu

Selamat idul fitri, laut
Maafkanlah kami
Selama ini
Kami mengeruhkanmu

Selamat idul fitri, burung-burung
Maafkanlah kami
Selama ini
Memberangusmu

Selamat idul fitri, tetumbuhan
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak puas-puas
Kami menebasmu

Selamat idul fitri, para pemimpin
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak habis-habis
Kami membiarkanmu

Selamat idul fitri, rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.

Puisi “Selamat Idul Fitri” tersebut menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Ciri-cirinya dapat diperhatikan pada bahasa konotatif dan bersifat referensional atau ada rujukan di dunia nyata pada puisi tersebut. Puisi ini termasuk “Puisi Bebas” karena tidak memiliki rima. Meskipun di puisi ini tidak memiliki rima tetapi puisi ini memiliki nada yang begitu dalam dari setiap diksinya. Berikut adalah nada atau sikap penulis terhadap persoalan yang penulis bicarakan:

  • Selamat idul fitri, bumi : Baris ini mengandung nada bahagia dan mengucapkan selamat idul fitri kepada bumi.
  • Maafkanlah kami : Baris ini mengandung makna nada merengek untuk sebuah permohonan maaf di hari idul fitri ini.
  • Selama ini : Baris ini mengandung makna nada menegaskan bahwa kesalahan yang diperbuat subjek (kami) sudah terlalu banyak dan berulang-ulang.
  • Tidak semena-mena : Baris ini mengandung makna nada menjelaskan salah satu kesalahan yang telah diperbuat subjek.
  • Kami memperkosamu : Baris ini mengandung makna nada menghina dan menjelaskan diri subjek  sendiri yang telah semena-mena kepada objek (bumi)

*    Keterangan: Nada-nada pada setiap baris tersebut kurang lebih sama pada bait-bait selanjutnya. Yang membedakan pada subjek dan objek yang digambarkan penulis.

Hal pertama dan yang paling terlihat dalam puisi ini adanya repetisi yang digunakan penyair dari awal sampai akhir puisi, yang cukup memberikan efek tersendiri dan menekankan sesuatu yang ingin Gus Mus sampaikan.

Idul Fitri adalah hari raya kemenangan bagi setiap orang muslim di seluruh dunia yang telah menunaikan kewajiban puasa sebulan penuh karena mengharapkan ridho ilahi dan tidak lupa untuk membayar zakat fitrah sebelum di laksanakannya sholat ied. Idul fitri tak sebatas hari raya saja ada makna lainnya yang utama yaitu kembalinya manusia ke fitrinya karena telah puasa, otomatis seluruh dosanya di ampuni oleh allah dan hari bahagia bagi orang islam. Dengan landasan seperti itulah sang penyair ingin menyampaikan bahwa kita harus kembali fitri atau suci. Beliau menggambarkan subjek dengan kami-lirik sebagai sosok yang bahagia karena hadirnya hari raya Idul Fitri. Seperti halnya subjek-subjek lainnya kami-lirik juga mengharapkan permintaan maaf akan kesalahan-kesalahannya.

Kami-lirik dalam pusi tersebut digambarkan begitu bersungguh-sungguh dan tulus karena rasa bersalahnya yang teramat sangat. Yang cukup menarik pula adalah subjek kami-lirik ternyata berbeda-beda subjek dari setiap baitnya meski terlihat sama. Hal tersebut dapat dilihat dari objek yang diucapkan selamat Idul Fitri dan diharapkan permohonan maaf kami-lirik dari setiap bait. Objek-objek tersebut adalah  bumi, langit, mentari, laut, burung-burung, tetumbuhan, rakyat, dan pemimpin. Masing-masing objek tersebut mungkin terlihat biasa jika kurang dipahami, tetapi sebenarnya objek tersebut memiliki makna tersirat yang sangat ironi (sindiran halus).

Horace menyatakan bahwa hakekat seni itu dulce et utile atau seni itu indah dan berguna (Wellek dan Warren, 1995:25). Jadi, karya sastra selain bersifat menghibur juga bermanfaat bagi penikmatnya. Di puisi “Selamat Idul Fitri” ini Gus Mus memberikan sebuah karya sastra yang indah dan berguna. Indah disini dapat dilihat dari pemilihan-pemilihan diksi Gus Mus untuk menggambarkan betapa salahnya “kami.”