Monthly Archives: Februari 2015

Mengambang

Aku rindu berbicara padamu
yang kini telah menyepelekanmu,
yang telah berani membantahmu
dan yang telah berani ingkar padamu

Aku sadar tentang khianat ini
tapi hati ini tak pernah mengerti
apa yang sebenarnya terjadi
dan apa yang harus kulakukan nanti

Maafkan aku yang tengah mengambang ini

_Biorhimitzu_

Iklan

Poter AB & CD Kini

Dari 10 supir taksi hanya 1 yang peduli sesama

Itu menunjukkan kalau kita kurang peduli dan peka

Sering kita hujat mereka yang menjadi wakil kita

Tanpa sadar kita bukan mereka dan bagaimana jadi mereka

Banyak yang lihat kejadian itu tapi sedikit yang membantu

Orang peka itu seperti pecahan uang seribu buatku

Poster poster dan teatrikal almamater kalian palsu

Karena kalian bukan lagi pemikir tapi hanya peniru

Ada yang menolong, tapi mereka ditolak si acuh yang lain

Itulah masa kini, entah bagaimana nanti

Maksud kalian hebat, tapi itu tidak membentuk perubahan

Itulah masa kini, entah bagaimana nanti

_Biorhimitzu_

Kepingan Debu

Debu-debu tanah keluar dari kodrat

Bencana dan darah yang ditakutkan mereka terjadi

Debu terus semakin kotor dan gersang

Mereka menduga dan mereka menggoda

Tertawa, tertawa, dan terus tertawa

Betapa banyak debu mengungkapkan syukur dengan kufur

Ke mana debu itu harus pergi

Masih mungkinkah ia kembali

 Jiwanya menjerit dan rapuh

Getar               Getar

Pulang, pulang dan ingin pulang kembali

Terdiam

Terdiam                             Terdiam


_Biorhimitzu_

Hai Air Hujan

Hai air hujan,
Selamat datang di negeri kami
Engkau datang,
Sejukkan kami dan rumah kami
Engkau pergi,
Kipas dan AC kami harus berputar kembali
Hai air hujan,
Terima kasih telah hadir malam ini…

Ehhh…!!!

Hai air kali,
Hari ini kau datang dan naik cepat sekali
Engkau datang, kami siaga diri
Engkau pergi, kami kerja bakti
Hai air kali,
Jangan datang malam ini ya, aku ingin bermimpi dengannya!

(Biorhimitzu)

Masa Lalu

Hai masa laluku,
Kamu tau apa itu akar?
Kamu tau apa fungsi akar?
Kamu tau di mana akar itu berada?
Kamu pasti tau dong…!

Ya benar, akar adalah bagian tumbuhan yang biasanya tertanam di bawah tanah

Akar berfungsi sebagai penguat, pengisap air dan zat makanan..

Kamu tahu kalau kamu sama seperti akar?

Ya, kamu seperti akar, berada di dalam kisah-kisah masa laluku,
menjadi pangkal kisah-kisahku masa kini,
dan menjadi penguatku sampai sekarang juga nantinya…

Hai masa laluku,
Terima kasih aku ucap untukmu…

_Biorhimitzu_

Sakura

Sakura,
indah sekali warnamu
indah sekali tubuhmu
Sakura,
aku kagum melihatmu melawan angin kencang
aku kagum akan caramu jatuh yang tenang
Sakura,
aku rindu harum mewangimu
aku rindu duduk berdua denganmu
Sakura,
sampai kapan aku bisa bangun dari lelapku
sampai kapan aku bisa datang menjemput ke negerimu

_Biorhimitzu_

Atas Izin-Mu

Atas izin-Mu,

Langit dan bumi Kau tampakkan bukti-bukti kuasa-Mu;

Kau ciptakan kami dan berbagai makhluk di sekitar kami;

Hanya untuk kaum yang meyakini.

Atas izin-Mu,

Ada pergantian malam dan siang tanpa rasa jemu;

Kau turunkan hujan ke bumi tempat kami tinggal;

Hanya untuk kaum yang berakal.

Atas izin-Mu,

Kami berbaring, duduk, berdiri dan berlari di bumi-Mu;

Kau beri naluri pada kami dan insting pada binatang-binatang;

Hanya untuk kaum yang berpikir.

Atas izin-Mu,

Aku tumbuh dan besar di keluarga sederhana.

Canda tawa, suka duka aku bersama mereka.

Belajar apa itu agama, apa itu keluarga dan apa arti hidup.

Tinggal dan berutinitas dalam satu atap, atap yang tidak tetap.

Ataz izin-Mu,

Aku dapat bersekolah di sekolah-sekolah negeri di negaraku.

Duduk bersama teman-teman sebaya di kursi kayu menimba ilmu.

Bernyanyi dan berlari-lari mengejar prestasi bersama-sama.

Gandeng-bergandengan mengatasi masalah dan rasa putus asa.

Atas izin-Mu,

Aku diperbolehkan memperdalam ilmu tarbiyah dan keguruan.

Meninggalkan impian-impian duniawi dan kenakalan anak sekolahan.

Mengasah bahasa dan sastra dengan kalian sahabat-sahabatku.

Mengeksplor alam negeri kita lalu menumpahkannya di buku.

Atas izin-Mu,

Masih inginkah kalian setia dengan janji-janji kita dahulu?

(Biorhimitzu)

Selamat Tinggal Pensilku

Satu, dua, tiga, empat dan lima
Satu persatu goresan-goresan kau hapus
Tergantikan dengan goresan-goresanmu
Goresan tentang apa itu pertemuan
Goresan tentang apa itu perjalanan
Goresan tentang apa itu kebahagiaan
Goresan tentang apa itu canda dan tawa
Bahkan,
Goresan tentang serunya perdebatan persepsi kita
Semua tergores dan tersusun dengan rapi

Sampai pada suatu masa semua itu berubah
Berubah karena kelalaian juga ketidaksadaran
Aku menghilangkan alat tulisku itu
Membiarkannya tergeletak dan terdiam di sudut tempat itu
Sudut yang bahkan tak kuketahui itu di mana

Kini,
Tidak ada lagi goresan-goresan tentangmu
Tetap, tak bertambah dan juga tak berkurang
Goresan-goresan itu hanya diam dan termenung
Walaupun terkadang ia juga muncul dengan tiba-tiba
Sesekali muncul dan menari-nari, lalu diam lagi
Selalu begitu dan mungkin akan terus begitu

“Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga”
Kita semua tahu itu hanya secuil lirik
Tapi, terkadang kita tidak sadar dan mengabaikannya
Kita lupa untuk menjaga apa yang kita punya
Tidak merawat apa yang kita miliki
Juga, melalaikan apa kewajiban kita
Lalu, kita hanya bisa menyesali itu semua
Tak bisa apa-apa dan tak bisa akan apa
“Huft”… hanya itu yang terbesit di ujung bibir

Selamat Tinggal Pensilku
(Biorhimitzu – Kharisma Bangsa)