Daily Archives: 12 April 2017

Sinopsis Novel Salah Asuhan

Corrie de Bussee, gadis Indo-Belanda yang cantik, lincah dan menjadi dambaan setiap pria yang mengenalnya. Corrie berteman dengan Hanafi dari sejak kecil. Hanafi sendiri adalah laki-laki muda asli Minangkabau, berpendidikan tinggi dan berpandangan kebarat-baratan. Bahkan cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Karena selalu bersama-sama akhirnya mereka satu sama lain saling mencintai. Tapi cinta mereka itu tidak dapat disatukan karena perbedaan bangsa, jika orang Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda maka tidak diperbolehkan, yang akhirnya apabila kejadian sampai menikah mereka akan dijauhi oleh para keluarganya dan orang lain. Corrie pun akhirnya pergi yang tadinya tinggal di Minangkabau menjadi di Betawi. Perpindahan itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari Hanafi dan meneruskan sekolahnya di sana.

Akhirnya ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah. Rapiah adalah sepupu Hanafi, gadis Minangkabau sederhana yang berperangai halus, taat pada tradisi dan adat sukunya. Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah yaitu untuk membalas budi pada ayah Rapiah yaitu Sutan Batuah yang telah membantu membiayai sekolah Hanafi. Tapi Hanafi awalnya tidak mau karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi akhirnya dengan bujukan ibunya walaupun terpaksa ia menikah juga dengan Rapiah. Karena Rapiah tidak Hanafi cintai keberadaan Rapiah pun di rumah hanya diperlakukan seperti babu, mungkin Hanafi juga menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada apabila banyak temannya orang Belanda yang datang ke rumahnya. Hanafi dan Rapiah dikarunia seorang anak laki-laki yaitu Syafei.

Suatu hari Hanafi digigit anjing gila, maka dia harus berobat ke Betawi agar sembuh. Di Betawi Hanafi dipertemukan kembali dengan Corrie. Di Betawi, Hanafi menikah dengan Corrie dan mengirim surat pada ibunya bahwa dia menceraikan Rapiah. Ibu Hanafi dan Rapiah pun sangat sedih tetapi walaupun Hanafi seperti itu Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal dengan Ibu Hanafi. Perkawinannya dengan Corrie ternyata tidak bahagia, sampai-sampai Corrie dituduh suka melayani laki-laki lain oleh Hanafi. Akhirnya Corrie pun sakit hati dan pergi dari rumah menuju Semarang. Corrie sakit Kholera dan meninggal dunia. Hanafi sangat menyesal telah menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas kematian Corrie, Hanafi pun pulang kembali ke kampung halamannya dan menemui ibunya, Hanafi pekerjaannya hanya termenung saja dan tidak terlalu bergairah. Hanafi sakit, kata dokter dia minum sublimat dan akhirnya dia meninggal dunia.

Iklan

Sinopsis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Zainuddin berhasil kembali ke kampung halamannya setelah diberi izin oleh Mak Base, orang tua angkatnya. Selama ini dia tinggal di negeri orang, yaitu di Makasar. Hal ini disebabkan ayahnya dulu telah diusir dari Batipuh, karena telah membunuh Datuk Mantari Labih. Datuk Mantari Labih ini dibunuh oleh pendekar Sutan, ayah kandung Zainuddin itu, karena Datuk Mantari Labih berusaha merebut harta warisan milik ayah Zainuddin. Akibat pembunuhan itu, Pendekar Sutan dibuang atau diusir dari tanah leluhurnya dan lari ke Mengkasar. Di Mengkasar, Pendekar Sutan kawin dengan Daeng Habibah. Dari hasil perkawinan dengan Habibah itu, lahirlah Zainuddin. Setelah ayahnya meninggal, Zainuddin diangkat anak oleh Mak Base yang baik hati itu.

Ketidakadilan yang menimpa ayahnya dulu itu akibat adat istiadat yang melekat di daerahnya itu, sekarang betul-betul dirasakannya sendiri. Karena Zainuddin bukan orang Padang asli, karena dia mempunyai ibu yang bukan asli Minangkabau atau Batipuh itu, hubungan cintanya dengan Hayati seakan sebagai penghalang besi yang sulit ditembus. Semakin besar lagi halangan cinta kasihnya dengan Hayati, yaitu dia termasuk pemuda yatim piatu yang miskin. Tapi walaupun begitu hubungan cinta kasih mereka masih tetap saja berlangsung. Zainuddin yang waktu itu tinggal di Padang Panjang selalu berkirim-kirim surat pada Hayati yang ada di Batipuh.

Suatu hari Hayati pergi ke Padang Panjang untuk melihat pasar malam. Tentu saja sebelum berangkat kesana, kepergiannya itu telah diberi tahu lewat surat kepada Zainuddin. Jadi pada dasarnya kepergiannya itu hanyalah ingin bertemu dengan Zainuddin. Dan keduanya memang sama-sama rindu hendak bertemu kasih.

Di Padang Panjang Hayati tinggal di rumah sahabatnya, yaitu Khadijah. Dan mereka telah berjanji akan bertemu di rumah sahabatnya itu dengan Zainuddin. Tapi tanpa diduga, ternyata pertemuan cinta kasih mereka harus terhalangi oleh orang ketiga, sebab ternyata kakaknya Khadijah rupanya menaruh hati juga pada Hayati. Puncak persaingan antara kedua pemuda itu terhadap Hayati yaitu ketika keduanya sama-sama mengirim surat untuk Hayati kepada orang tua Hayati. Zainuddin waktu itu, walaupun sebenarnya bukan seorang pemuda miskin lagi karena dia baru saja menerima warisan dari Mak Base yang baru meninggal dunia dan tidak berusaha menjelaskan kepada keluarga Hayati bahwa dia sudah kaya, harus menerima perasaan pahit, yaitu lamarannya ditolak oleh orang tua Hayati. Sedangkan yang sebagai pemenang adalah Aziz, karena Aziz seperti diketahui oleh orang tua Hayati selama ini adalah seorang pemuda kaya.

Zainuddin akibat kenyataannya ditolaknya lamarannya itu kemudian jatuh sakit. Sedangkan Hayati menjadi sedih dan was-was hidup dengan seorang pemuda Aziz yang tidak dicintainya sedikitpun itu. Aziz juga merupakan seorang pemuda yang berperangai jelek, sehingga membuat tidak berbahagia keluarga itu.

Atas saran Muluk, sahabatnya, Zainuddin kemudian pindah ke Jakarta. Di Jakarta Zainuddin menjadi seorang penulis. Tulisannya makin lama makin banyak, sehingga dari mulai dikenal oleh banyak orang. Selanjutnya dengan ditemani oleh sahabat karibnya itu, Zainuddin pindah ke Surabaya. Di Surabaya diapun menjadi seorang penulis yang produktif. Namanya terkenal di masyarakta Surabaya. Dia juga dikenal menjadi seorang penulis yang kaya dan sangat dermawan.

Karena tugas pekerjaannya, oleh pemerintah Aziz ditempatkan di Surabaya, sehingga keluarga ini harus tinggal di Surabaya. Akibat berikutnya, mereka bertemu lagi dengan Zainuddin yang sangat Hayati cintai itu.

Akibat kecerobohan dan kelalaian Aziz dalam menjalankan pekerjaannya Aziz dipecat dari pekerjaannya. Selama menganggur itu Hayati dan suaminya Aziz itu tinggal di rumah Zainuddin yang sangat dermawan itu. Lama-kelamaan, Aziz merasa malu juga tinggal di rumah Zainuddin dengan keadaan yang menganggur dan tak punya uang. Sedangkan Zainuddin sendiri sungguh sangat baik dalam menerima mereka. perlakuan Zainuddin yang demikian baik itu sungguh telah membuat Aziz menjadi sangat rikuh dan malu. Karena tidak tahan menanggung rasa yang makin lama makin besar itu, akhirnya Aziz pergi meninggalkan Hayati entah kemana. Baru beberapa lama kemudian, Aziz mengirim dua pucuk surat, yang satu untuk Hayati istrinya dan yang satu lagi untuk Zainuddin. Surat untuk Hayati berisikan bahwa dia telah menceraikan Hayati. Sedangkan isi surat untuk Zainuddin, yaitu Aziz menyerahkan Hayati kepada Zainuddin agar Zainuddin mau menerima Hayati sebagai istrinya. Rupanya itu pesan terakhir dari Aziz, yang tak lama kemudian meninggal dunia.

Sebenarnya hati Zainuddin memang masih sangat mencintai Hayati dan masih berharap agar Hayati bisa jadi istrinya. Namun karena kekerasan hatinya yang diliputi oleh rasa dendam karena dulunya lamarannya ditolak oleh orang tua Hayati, penyerahan Hayati itu dia tolak. Malah dia suruh Hayati pulang kampung. Betapa hancur hati Hayati menerima kenyataan itu. Kemudian dia pulang dengan menumpang kapal Van Der Wijck esoknya. Ketika kapal telah berangkat membawa Hayati pulang, tiba-tiba kesadaran Zainuddin muncul lagi, bahwa dia sebenarnya sangat mendambakan Hayati. Dengan tergesa-gesa dia berangkat menyusul Hayati ke pelabuhan, namun kapal Van Der Wijck sudah berangkat. Hati Zainuddin sangat sedih dan menyesali perbuatannya. Dia semakin sedih dan hancur, ketika besoknya dia membaca Koran terkabarkan bahwa kapal Van Der Wijck telah tenggelam. Secepat kilat Zainuddin berangkat ke Tuban bersama sahabat karibnya, Muluk untuk menemui kekasih hatinya yang sedang berbaring di rumah sakit Tuban. Itulah pertemuan terakhir mereka, Hayati meninggal di rumah sakit itu, di dalam pelukan Zainuddin.

Akibat kejadian yang sangat disesalkan dan disedihkan itu, Zainuddin terus sakit-sakitan. Dan akhirnya meninggal dunia. Oleh Muluk jasad Zainuddin dimakamkan bersebelahan dengan Hayati.

Tujuan Membaca

Tujuan utama dari membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning), erat sekali hubungannya dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca. Berikut ini tujuan membaca yang dikemukakan oleh Anderson sebagi berikut:

  1. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for detail or facts).

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh tokoh, apa-apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah yang dibuat oleh tokoh.

  1. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main idea).

Membaca seperti ini membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita apa-apa yang dipelajari atau dialami tokoh, atau merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya.

  1. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization).

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, ketiga/seterusnya.

  1. Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal.

  1. Membaca untuk mengelompokan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar.

  1. Membaca untuk menilai, membaca untuk mengevaluasi (reading to evaluate)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah ikita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja dalam cerita itu.

  1. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast)

Membaca seperti ini membaca untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai kesamaan.[1]

Sedangkan Heilman mengemukakan beberapa manfaat dan tujuan membaca yang dimaksudkannya itu, antara lain, sebagai berikut:

  1. Menambah atau memperkaya diri dengan berbagai informasi tentang topik-topik yang menarik.
  2. Memahami dan menyadari kemajuan pribadinya sendiri.
  3. Membenahi atau meningkatkan pemahamannya tentang masyarakan dan dunia atau tempat yang dihuninya.
  4. Memperluas cakrawala wawasan atau pandangan dengan jalan memahami orang-orang lain dan bagian atau tempat-tempat lain.
  5. Memahami lebih cermat atau lebih mendalam tentang kehidupan pribadi orang-orang besar atau pemimpin terkenal dengan membaca biografinya.
  6. Menikmati dan ikut merasakan liku-liku pengalaman pertualang dan kisah percintaan orang lain.

Atas dasar tujuan dan manfaat membaca yang dikemukan oleh Heilman itu, dapat disimpulakan bahwa tujuan membaca itu pada dasarnya terbagi (a) membaca untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, dan (b) membaca untuk memperoleh kepuasan dan kenikmatan emosional artistik.[2]

Selanjutnya tujuan membaca juga dikemukakan oleh Gray dan Roger menyebutkan bahwa dengan membaca seseorang antara lain dapat:

  1. Mengisi waktu luang
  2. Mengetahui hal-hal aktual yang terjadi di lingkungan
  3. Memuaskan pribadi yang bersangkutan
  4. Memenuhituntutan praktis kehidupan sehari-hari
  5. Meningkatkan minat terhadap sesuatu lebih lanjut
  6. Meningkatkan pengembangan diri sendiri
  7. Memuaskan tuntutan intelektual [3]

 

Catatan kaki:

[1] Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Kereampilan Berbahasa, h. 9-11.
[2] Abd. Rahman H.A. dkk, Minat Baca Murid Sekolah Dasar di Jawa Timur. (Jakarta, Depdikbud: 1985), h. 9.
[3] Mudjito, Pembinaan Minat Baca, (Jakarta, UT: 2001), h. 62.

Pengertian Membaca

Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills).

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan atau dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.[1]

Anderson secara singkat dan sederhana mencoba mendefinisikan membaca sebagai proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis. Finnochiaro dan Bonomo mencoba mendefenisikan membaca sebagai proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tulis (reading is bringing meaning to and getting meaning from printed or written material). Kedua pengertian membaca tersebut oleh para pakar membaca umumnya digolongkan sebagai kegiatan membaca literal. Artinya, pembaca hanya menangkap informasi yang tercetak secara literal (tampak jelas) dalam bacaan atau informasi yang ada dalam baris-baris bacaan (reading the lines).[2]  Pembaca tidak lagi menangkap makna yang lebih dalam lagi yaitu makna yang terdapat dibalik baris-baris tersebut.

Sedangkan Goodman menyatakan bahwa membaca bukan hanya sekadar menuntut kemampuan mengambil dan memetik makna dari materi yang tercetak, melainkan juga menuntut kemampuan menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna. Oleh karena itu membaca dapat kita defenisikan sebagai kegiatan memetik makna atau pengertian bukan hanya dari deretan kata yang tersurat saja (reading the lines) melainkan juga makna yang terdapat di antara baris. (reading between the lines), bahkan juga makna yang terdapt dibalik deretan baris tersebut (reading beyond the lines).

Defenisi membaca juga dikemukan oleh Gillet and Temple, keduanya mengatakan bahwa Reading is making sense of written language. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis. Jadi menurut definisi ini kegiatan yang paling mendasar dari proses membaca adalah membuat pengertian. Maksudnya ialah memperoleh dan menciptakan gagasan, informasi, serta imaji, mental dari segala sesuatu yang dicetak. Memberi makna sering disebut memahami.[3] Dalam prosesnya kegiatan membaca ini juha tidak lagi pasif melainkan sebagai proses yang aktif. Dengan demikian dalam tataran yang lebih tinggi membaca bukan hanya memahami lambang-lambang bahasa tulis melainkan pula berusaha memahami, menerima, menolak, membandingkan, dan meyakini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh pengarang.

 

Catatan Kaki:

[1] Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa,(Bandung, Angkasa: 2008), h. 7.
[2] Kholid Harras, dkk, Membaca 1, (Jakarta, UT: 2007), h. 1.8.
[3] Ibid, h. 1.9.