Pendekatan dalam Kajian Sastra

  1. Pendekatan Mimetik

Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan. Mimetik dalam bahasa yunani “mimesis” yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini, karya sastra merupakan hasil tiruan atau cermin dari kehidupan. Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan menggunakan pendekatan mimetik, dibutuhkan data-data yang berkaitan dengan realitas kehidupan yang ada dalam karya sastra tersebut. Contohnya, sebuah cerita yang bersetting abad- 18 diperlukan data- data yang berkaitan realitas kehidupan masyarakat pada masa tersebut.

Karena pendekatan mimetik menghubungkan karya sastra dengan realitas, maka kemudian muncul anggapan bahwa karya merupakan cerminan dari realitas, sehingga hakikat karya sastra yang bersifat fiktif sering kali dilupakan. Hal ini sangat berbeda dengan makna karya sastra yang merupakan hasil karangan fiktif pengarang.

  1. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra tersebut. Pendekatan ekspresif muncul pada abad ke-18 dan 19, yaitu ketika para pengritik mencoba menyelami jiwa penyair melalui puisi- puisinya.

Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan pendekatan ekspresif diperlukan data-data yang berhubungan dengan sastrawan yang membuat karya sastra tersebut, seperti dimana dia tinggal, dimana dia dilahirkan, kapan dia hidup, bagaimana latar belakang pendidikan, keluarga, sosial, budaya, agama, dan lain sebagainya. Dengan adanya data tersebut, akan lebih mudah dalam mengkaji karya sastra tersebut, seperti pengaruh waktu pengarang hidup dengan isi karya sastra yang dibuatnya. Dengan gambaran waktu yang sama antara waktu pengarang hidup dengan waktu yang terdapat dalam karya sastra tersebut membuat hasil karya sastra tersebut menjadi lebih hidup dibandingkan dengan karya sastra dimana waktu dalam karya sastra tersebut berbeda dengan waktu si pengarang hidup.

Kelemahan dari pendekatan ekspresif adalah kecenderungan untuk selalu menyamakan realitas dalam karya sastra tersebut dengan realitas yang dialami oleh sastrawan. Padahal dalam kenyataannya tidak semua karya sastra merupakan cerminan realitas si pengarang.

  1. Pendekatan Pragmatik

Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral agama atau tujuan yang lainnya. Pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran yang diberikan kepada pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut. Contohnya dalam novel Atheis dimana Hasan ombang–ambingkan keimanannya. Hal tersebut dapat dikaji nilai kereligiusannya.

  1. Pendekatan Objektif

Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri. Wellek & Warren (1990) menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur koherensi (antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat) dan kebenaran sendiri. Unsur intrinsik yang dikaji dengan menggunakan pendekatan objektif dapat berupa diksi, bahasa kiasan, citraan, bunyi, persajakannya dan lain-lain.

About biorhimitzu

''If you can dream it, you can do it''

Posted on 19 Oktober 2015, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: