Selamat Idul Fitri karya K.H.A. Mustofa Bisri

Sebagai seorang ulama dan penyair, K.H.A. Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus telah memberikan bentuk keindahan yang padat makna dan isi. Seperti kita ketahui bersama ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Begitu pula dengan Gus Mus yang merupakan Rais Syuriah PBNU, meski dia anggota Dewan Penasihat DPP PKB, meski dia Pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Thalibien di Rembang. Menurut beliau, “kegiatan puisi telah menjadi kegiatan yang mendarah daging dan bersastra itu sudah menjadi tradisi para ulama sejak dulu !”

“Sahabat-sahabat Nabi itu semua penyair, dan Nabi Muhammad SAW pun gemar mendengarkan mereka bersyair. Pernah Rasulullah kagum pada syair ciptaan Zuhair, sehingga beliau melepas pakaian dan menyerahkan kepadanya sebagai hadiah !”

“Al Qur’an sendiri merupakan mahakarya sastra yang paling agung !”, katanya. Maka dari itu kini banyak ulama atau sastrawan-sastrawan berlatar belakang agama yang mengambil bagian dan memberikan angin segar dalam blantika sastra Indonesia.  Berikut adalah salah satu puisi karya Gus Mus yang cukup menarik:

Selamat Idul Fitri

Selamat idul fitri, bumi
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak semena-mena
Kami memperkosamu

Selamat idul fitri, langit
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak henti-hentinya
Kami mengelabukanmu

Selamat idul fitri, mentari
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak bosan-bosan
Kami mengaburkanmu

Selamat idul fitri, laut
Maafkanlah kami
Selama ini
Kami mengeruhkanmu

Selamat idul fitri, burung-burung
Maafkanlah kami
Selama ini
Memberangusmu

Selamat idul fitri, tetumbuhan
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak puas-puas
Kami menebasmu

Selamat idul fitri, para pemimpin
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak habis-habis
Kami membiarkanmu

Selamat idul fitri, rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.

Puisi “Selamat Idul Fitri” tersebut menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Ciri-cirinya dapat diperhatikan pada bahasa konotatif dan bersifat referensional atau ada rujukan di dunia nyata pada puisi tersebut. Puisi ini termasuk “Puisi Bebas” karena tidak memiliki rima. Meskipun di puisi ini tidak memiliki rima tetapi puisi ini memiliki nada yang begitu dalam dari setiap diksinya. Berikut adalah nada atau sikap penulis terhadap persoalan yang penulis bicarakan:

  • Selamat idul fitri, bumi : Baris ini mengandung nada bahagia dan mengucapkan selamat idul fitri kepada bumi.
  • Maafkanlah kami : Baris ini mengandung makna nada merengek untuk sebuah permohonan maaf di hari idul fitri ini.
  • Selama ini : Baris ini mengandung makna nada menegaskan bahwa kesalahan yang diperbuat subjek (kami) sudah terlalu banyak dan berulang-ulang.
  • Tidak semena-mena : Baris ini mengandung makna nada menjelaskan salah satu kesalahan yang telah diperbuat subjek.
  • Kami memperkosamu : Baris ini mengandung makna nada menghina dan menjelaskan diri subjek  sendiri yang telah semena-mena kepada objek (bumi)

*    Keterangan: Nada-nada pada setiap baris tersebut kurang lebih sama pada bait-bait selanjutnya. Yang membedakan pada subjek dan objek yang digambarkan penulis.

Hal pertama dan yang paling terlihat dalam puisi ini adanya repetisi yang digunakan penyair dari awal sampai akhir puisi, yang cukup memberikan efek tersendiri dan menekankan sesuatu yang ingin Gus Mus sampaikan.

Idul Fitri adalah hari raya kemenangan bagi setiap orang muslim di seluruh dunia yang telah menunaikan kewajiban puasa sebulan penuh karena mengharapkan ridho ilahi dan tidak lupa untuk membayar zakat fitrah sebelum di laksanakannya sholat ied. Idul fitri tak sebatas hari raya saja ada makna lainnya yang utama yaitu kembalinya manusia ke fitrinya karena telah puasa, otomatis seluruh dosanya di ampuni oleh allah dan hari bahagia bagi orang islam. Dengan landasan seperti itulah sang penyair ingin menyampaikan bahwa kita harus kembali fitri atau suci. Beliau menggambarkan subjek dengan kami-lirik sebagai sosok yang bahagia karena hadirnya hari raya Idul Fitri. Seperti halnya subjek-subjek lainnya kami-lirik juga mengharapkan permintaan maaf akan kesalahan-kesalahannya.

Kami-lirik dalam pusi tersebut digambarkan begitu bersungguh-sungguh dan tulus karena rasa bersalahnya yang teramat sangat. Yang cukup menarik pula adalah subjek kami-lirik ternyata berbeda-beda subjek dari setiap baitnya meski terlihat sama. Hal tersebut dapat dilihat dari objek yang diucapkan selamat Idul Fitri dan diharapkan permohonan maaf kami-lirik dari setiap bait. Objek-objek tersebut adalah  bumi, langit, mentari, laut, burung-burung, tetumbuhan, rakyat, dan pemimpin. Masing-masing objek tersebut mungkin terlihat biasa jika kurang dipahami, tetapi sebenarnya objek tersebut memiliki makna tersirat yang sangat ironi (sindiran halus).

Horace menyatakan bahwa hakekat seni itu dulce et utile atau seni itu indah dan berguna (Wellek dan Warren, 1995:25). Jadi, karya sastra selain bersifat menghibur juga bermanfaat bagi penikmatnya. Di puisi “Selamat Idul Fitri” ini Gus Mus memberikan sebuah karya sastra yang indah dan berguna. Indah disini dapat dilihat dari pemilihan-pemilihan diksi Gus Mus untuk menggambarkan betapa salahnya “kami.”

About biorhimitzu

''If you can dream it, you can do it''

Posted on 1 Februari 2012, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: